Motor melaju pelan, di antara kendaraan lain mengikuti arus pagi yang mulai padat. Di belakangnya, Hendoko terus berbicara tentang hal-hal acak—kadang soal kelas satu, kadang soal musik, bahkan tentang jalan yang semakin macet menjelang jam tujuh. Rian mengangguk sesekali, menjawab seperlunya. Tetapi cukup untuk menjaga percakapan tetap hidup tanpa benar-benar ia ikuti.Sesampainya di parkiran, ia mematikan mesin, memarkir motor dengan rapi, lalu menyimpan helm dan mengangkat tas ke pundak.Lorong menuju kelas sudah ramai, tetapi seperti biasa, keramaian itu memiliki pola yang bisa ditebak: siswa berlari mengejar bel, beberapa bercanda di sudut lorong, sebagian lain berhenti di papan pengumuman. Aroma kertas lembap bercampur sisa hujan semalam masih terasa samar di udara.Rian berjalan seperti biasa, namun tanpa ia sadari, matanya lebih sering menoleh ke sekeliling.“Yan, kelas lu udah dikasih PR Fisika belum?” tanya Hendoko.Rian menggeleng. “Kayaknya belum.”“Haduh, mana siang dikum
Last Updated : 2026-02-02 Read more