Share

Hampir Berani

Author: aquarian
last update publish date: 2026-05-26 21:47:01

Sejak hari itu, pikiran Rian tidak pernah benar-benar utuh di kelas. Suara guru terdengar seperti latar belakang yang samar. Yang lebih jelas justru satu potongan kalimat yang terus berulang di kepalanya.

Jangan sok keren. Jadi diri sendiri. Coba aja dulu.

Rian bersandar di kursinya, menatap langit-langit. Niat itu sudah ada, tapi niat ternyata tidak otomatis berubah jadi keberanian.

Bel istirahat berbunyi. Kursi bergeser, suara langkah memenuhi kelas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Romantic Purple   Selama Kamu Mau

    “Assalamu’alaikum.”“Wa’alaikumsalam,”Pintu terbuka. Ibu Lidya berdiri di ambang dengan senyum hangat. ”Eh, Rian. Masuk Nak.”“Maaf Tante, pagi-pagi udah main ke sini.”“Gak apa-apa.” Ia membuka pintu lebih lebar.“Tapi Lidya kayaknya masih tidur, belum keluar kamar soalnya. Duduk aja dulu.”“Iya, Tante.”Rian melangkah masuk ke ruang tamu. Rumah itu terasa tenang, masih menyimpan suasana pagi. Dari arah dapur terdengar suara peralatan makan beradu pelan.Belum lama ia duduk, suara langkah tergesa terdengar dari dalam.“Mah... Mamah.”Lidya muncul dengan piyama tidur, rambut pendek sebahunya masih berantakan. Matanya setengah terbuka, wajahnya masih menyisakan kantuk.Ia belum sadar ada Rian di ruang tamu.“Mah, hari ini aku mau jalan sama Rian, ya...” katanya sambil menguap kecil.Ibunya menoleh sambil menahan senyum.“Kamu tuh, udah kelas dua juga masih bangun siang. Malu loh kalau dilihat Rian.”“Gak akan lah mah, masih pagi juga.”“Nih, tolong bawa ke ruang tamu.”Ibunya menyera

  • Romantic Purple   Yang Akhirnya Terucap

    Sabtu pagi, panggung, tenda, dan deretan kursi menghiasi lapangan sekolah. Kali ini semuanya terasa lebih “nyata”. Siswa putra memakai kemeja beserta jas, sedangkan siswa putri mengenakan kebaya.“Yan, foto dulu sini!” teriak Diki.Rian mendekat saling merangkul, tertawa tanpa alasan yang jelas.“Gila ya... tiga tahun gak kerasa,” gumam Hany.“Iya.”Acara berjalan khidmat. Selepas itu semua, suasana berubah menjadi lebih emosional.Rian melangkah sedikit menjauh dari keramaian. Ia berdiri menatap kelasnya. Tempat yang dulu terasa biasa... sekarang terasa berbeda.Ini terakhir...“Rian.”Rian menoleh.Lidya berdiri di sana. Seragamnya tertutup sweater putih biru, rambutnya terikat rapi dengan poni menyamping. Senyumnya kecil, tapi cukup untuk membuat Rian diam beberapa detik.Mereka berdiri berhadapan, hening hanya saling menatap“Datang jam berapa?” Kata Rian memecah keheningan.“Setengah jam yang lalu. Tadi liat kamu jalan ke sini, jadi aku susul.”Rian tersenyum.“Duduk di sana yuk?

  • Romantic Purple   Milikmu

    Hari Senin kali ini terasa berbeda dari Senin-Senin sebelumnya. Ada sesuatu yang membuat segalanya terasa lebih ringan.Rian menghentikan motornya di depan Warzam. Dari kejauhan, suara ramai sudah terdengar, tawa, teriakan, dan panggilan nama bersahutan.Ia baru saja melepas helm ketika seseorang langsung menepuk bahunya.“Yan!”Rian menoleh.Belum sempat ia bereaksi, tubuhnya sudah ditarik ke dalam pelukan.“Lulus, anjir! Makasih ya udah ngajarin.”Rian tertawa kecil, masih sedikit kaget. Ia menepuk punggung temannya.“Sama-sama.”Satu per satu datang menghampiri. Ada yang menyalami, ada yang memeluk, ada juga yang hanya tersenyum lebar dari jauh.Rian menatap sekeliling. Anak-anak Warzam berkumpul, wajah-wajah yang biasanya terlihat santai... sekarang penuh lega.“Hayu ah, ke sekolah dulu.” Ajak seseorang.Tak lama, halaman sekolah dipenuhi siswa kelas tiga.Barisan berdiri rapi, tapi susasananya jauh dari tegang. Beberapa masih saling berbisik, ada yang tersenyum sendiri, ada juga

  • Romantic Purple   Di Antara Pergi dan Tinggal

    Satu bulan setelah kelas tiga menyelesaikan ujian nasional, sekolah mulai ramai kembali. Entah ada kegiatan apa, anak-anak kelas tiga kini kembali terlihat di sekolah.Lidya duduk di kantin bersama Laras. Di depannya, segelas es teh tinggal setengah. Laras menopang dagu dengan tangan sambil memandangi sekitar“Eh Lid... sekarang mulai rame lagi,” katanya santai.“Banyak anak kelas tiga.”Lidya yang sejak tadi menatap gelasnya menjawab refleks.“Eh iya... mereka semua anak kelas tiga.”Laras menoleh pelan. Tatapannya berubah penuh arti. “Kayaknya... bakal ada yang melepas rindu nih,”“Hah? Melepas rindu?”Laras tersenyum tipis. “Iya, Rian ke sini gak?”Lidya memalingkan wajah sejenak. “Gak tau, belum ngabarin,”Laras sedikit mendekat. “Telepon aja.”Lidya menoleh cepat. “Ngapain?”“Ya telepon aja. Tanya lagi di mana, ke sekolah atau enggak.”Lidya menggelengkan. “Gak ah. Buat apa.”“Ya ampun, Lid...” Laras terkekeh.“Nunggu ada perlu dulu baru nelepon mah, lama.”Lidya terdiam.“Udah,

  • Romantic Purple   Yang Tak Ingin Kulepas

    Rian duduk di atas motornya yang terparkir di depan gerbang rumah Lidya. Sejak tadi ia hanya diam, sesekali melirik ke arah pintu. Ia memilih menunggu di luar... daripada harus mengetuk rumahnya.Tak lama, pintu terbuka. Lidya keluar dengan tas di bahunya, sambil membetulkan sepatu. Begitu mengangkat kepala, ia langsung terdiam.“Rian, kamu... ngapain di sini?”Rian mengangkat bahu santai. “Jemput.”“Kenapa gak bilang dulu?”“Biar surprise.”Lidya menatapnya beberapa detik. “Kalau aku udah berangkat duluan gimana?”Rian tersenyum kecil. “Gak mungkin. Aku kan nunggu dari jam enam.”Lidya sedikit terdiam.Lalu tanpa banyak bicara, ia berjalan mendekat kemudian naik ke motor.“Ciee... dijemput.”Suara itu datang tiba-tiba dari belakang.Kak Fitri berjalan mendekat sambil tersenyum jahil.“Mau juga dong dianter ke kampus.”“Eh, Kak. Mau berangkat?”“Iya. Kakak duluan ya.” Ia melambaikan tangan kecil.“Dadah, adek kesayangan. Udah gak sedih lagi sekarang.”Lidya langsung menoleh tajam.“Ih

  • Romantic Purple   Bukan dari Mereka

    Rian duduk di tepi tempat tidur, tasnya masih tergeletak di lantai sejak tadi ia pulang, seragamnya belum sempat diganti. Pikirannya masih tertahan pada pertemuan dengan Lidya sepulang sekolah tadi.Ia mengambil HP di saku jaketnya, mencari nama Lidya lalu mengetik pesan.“Lagi apa Lid?”Jarinya sempat berhenti di atas tombol kirim. Ragu sejenak. Namun akhirnya ia tekan juga. Pesan terkirim.Rian menunggu. Satu menit, dua menit dan ternyata tidak ada balasan.Ia kembali mengetik.“Lid, tadi... aku mau jelasin soal yang di sekolah.”Kali ini ia membaca ulang berkali-kali, menghapus satu kata, menambah kata lain, lalu mengirimnya. Tetap tidak ada balasan. Rian menyandarkan punggung ke dinding. Tatapannya terpaku pada layar HP, seolah berharap sesuatu berubah.Ia mencoba menelepon. Nada sambung terdengar, namun tidak di angkat sama sekali. Rian menurunkan HP perlahan. Mengusap wajahnya, lalu menatap jendela kamar. Cahaya sore masuk miring ke lantai. Semuanya terasa biasa, kecuali hatinya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status