Seluruh tenagaku seolah tersedot habis oleh pengakuan Arion. Tubuhku lemas, pikiranku buntu, dan pergelangan kakiku yang berdenyut nyeri membuatku tak punya daya untuk melawan saat Arion tiba-tiba mengangkat tubuhku. Ia menggendongku dengan protektif, seolah-olah aku adalah porselen yang nyaris hancur.Mobil Audi hitam itu mendadak sudah berada di sisi kami, seakan sang sopir memang selalu siap siaga dalam bayang-bayang. Begitu pintu terbuka, Arion membawaku masuk ke kursi belakang yang luas. Namun, ia tidak mendudukkanku di kursi sebelah. Ia justru mendudukkanku di pangkuannya, merangkul pinggangku dengan tangan yang gemetar halus, menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku sejenak. Aku bisa merasakan napasnya yang memburu dan detak jantungnya yang berpacu liar di dadaku."Arion, turunkan aku... aku bisa duduk sendiri," bisikku, mencoba mendorong bahunya yang kokoh."Diamlah, Canna. Sebentar saja. Biarkan aku memastikan kamu benar-benar di sini," suaranya serak, penuh dengan ketakutan
Read more