Pukul dua siang, keceriaan kecil di lantai eksekutif itu resmi berakhir. Kimi, dengan tas ransel kelincinya dan sisa-sisa binar kebahagiaan di matanya, ditarik lembut oleh Pak Salim dan pengasuhnya. Sebelum melangkah masuk ke lift, gadis kecil itu melepaskan pegangan tangannya dan berlari ke arah meja kerjaku. "Tante Canna, Kimi pulang dulu ya. Besok baca buku lagi?" tanyanya polos. Aku memaksakan senyum, mengusap pipinya yang lembut. "Iya, Sayang. Tidur siang yang nyenyak, ya." Aku melihat punggung kecil itu menghilang di balik pintu lift, dan seketika itu juga, kesunyian yang berat kembali menyergap. Arion tidak keluar dari ruangannya. Aku tahu dia sedang bergelut dengan tumpukan berkas dan beban pikiran yang sama beratnya denganku. Sore harinya, saat jam kantor berakhir, aku memutuskan untuk tidak menunggu jemputan. Biasanya, Pak Salim akan mengantar Arion pulang ke rumah utama, lalu kembali lagi untuk menjemputku di lobi samping agar tidak mencolok. Tapi hari ini, setelah peri
Read more