Satu setengah tahun menjalankan Marigold Florist telah mengubahku menjadi wanita yang tangguh. Aku sudah terbiasa dengan ritme Jakarta, bau tanah basah di pagi hari, dan peluh yang bercucuran saat merangkai dekorasi besar. Bagiku, toko ini adalah benteng pertahanan yang suci, tempat di mana nama "Canna Jolene" yang terluka telah terkubur dan digantikan oleh "Nara", sang perangkai bunga.Pagi itu, seorang pria dengan kemeja rapi masuk ke toko. Wajahnya asing, namun sikapnya sangat sopan. Ia memesan sebuah buket sebagai ungkapan permintaan maaf."Pria ini lagi, Kak," bisik Audrey saat aku mulai mengambil beberapa tangkai Tulip putih. "Dia datang setiap bulan, lho. Tapi biasanya Kakak lagi di gudang atau kirim pesanan, jadi aku yang terima."Aku tidak terlalu memikirkannya. Bagiku, dia hanyalah pelanggan setia lainnya. Aku merangkai buket itu dengan penuh perasaan—Tulip putih yang melambangkan kerendahan hati, baby's breath untuk ketulusan, dan dedaunan ruscus agar terlihat segar. Aku me
Read more