Cahaya matahari pukul sepuluh pagi menusuk masuk melalui celah tirai kamar Riana, terasa seperti jarum yang membangunkan paksa kesadarannya.Riana mengerjap, matanya terasa berat.Begitu ia bergerak sedikit untuk meregangkan tubuh, sensasi itu langsung menyerang. Rasa nyeri yang tumpul namun nikmat di pangkal paha, pegal di pergelangan tangan bekas kuncian jari yang kuat, dan jejak memar samar di pinggulnya.Tubuhnya terasa remuk, seolah baru saja ditabrak truk. Atau lebih tepatnya, digilas oleh mesin penghancur bernama Galih Prasetyo.Ingatan kejadian di sofa ruang TV semalam membanjiri otaknya.Bukan sekadar seks. Itu adalah pernyataan perang yang dimenangkan telak oleh pihak lawan. Galih tidak membiarkan Riana bergerak satu inci pun tanpa izin. Pemuda itu mendikte napasnya, mengontrol suaranya, dan membawanya ke puncak demi puncak dengan presisi yang kejam, lalu menahannya di sana sampai Riana menangis memohon ampun.Riana meraba sisi tempat tidurnya.Kosong. Dingin.Sprei di sebel
最終更新日 : 2026-02-05 続きを読む