“Katakan, Pelayan,” ulang Lucien. “Dari mana kau mendapatkan sabun mahal itu?”Pertanyaan Lucien yang dibisikkan itu membuat jantung Emily serasa berhenti berdetak. Seluruh darah di tubuhnya seolah membeku, dan rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya.Dia ketahuan.‘Tidak. aku tidak boleh panik.’ Pikir Emily.Satu jawaban salah bisa membunuhnya. Dia harus tenang dan berpikir cepat.Emily menahan napasnya sejenak berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang hampir hancur. Dia mengangkat dagunya sedikit, memaksa dirinya untuk menatap mata hijau tajam suaminya tanpa berkedip.“Saya tidak memakai sabun mahal, Marquess,” jawab Emily dengan suara yang terdengar tenang, meskipun di dalam dirinya sedang terjadi kepanikan. “Saya hanya menggunakan sabun kasar yang disediakan untuk para pelayan di dapur.”“Jangan berbohong padaku,” desis Lucien. Matanya menyipit curiga. “Aku mencium aroma mawar di tubuhmu. Sangat samar, tapi ada. Sabun pelayan tidak berbau seper
Last Updated : 2026-03-06 Read more