Cahaya matahari musim dingin yang pucat menembus celah gorden kamar utama, menyinari debu-debu yang melayang di udara yang terasa berat.Valerius terbaring di atas tempat tidur besarnya, tampak kontras dengan seprai sutra abu-abu yang membungkus tubuhnya.Wajahnya masih pasi, dengan bayangan hitam di bawah matanya yang tertutup rapat.Elara duduk di sisi tempat tidur, tangannya tidak berhenti bergerak. Ia mencelupkan kain bersih ke dalam baskom berisi air aromatik, memerasnya, lalu menempelkannya dengan hati-hati ke kening Valerius.“Suhu tubuhmu turun sedikit, tapi kau masih berkeringat,” gumam Elara.Valerius membuka matanya perlahan. Tatapannya yang biasanya tajam dan mengintimidasi kini tampak redup, hampir terlihat rapuh. “Jam berapa sekarang?”“Hampir tengah hari. Kau tertidur cukup lama setelah Master Kael memberimu obat penenang semalam,” jawab Elara sembari mengambil mangkuk bubur hangat yang sudah disiapkan pelayan di atas nakas.“Kau harus makan sedikit. Aku tidak ingin Han
Read more