“Pernikahan itu tidak akan pernah terjadi, Elara. Hapus pikiran itu dari kepalamu,” ucap Valerius datar, matanya menatap lurus ke depan seolah bicara pada kegelapan di sudut ruangan.Elara mendengus sinis lalu menutup kotak obat dengan bunyi klik yang tajam. “Aku tidak percaya padamu, Duke. Kata-katamu malam ini hanyalah penawar sesaat agar aku tidak lari lagi bersama Roderick. Besok, saat ayahmu kembali menekanmu dengan urusan gandum dan senjata, kau akan kembali menjadi putra yang patuh.”“Aku serius,” desis Valerius.“Tentu saja kau serius, sampai kau menyadari bahwa tanpa aliansi itu, rakyatmu akan mati kedinginan,” Elara berdiri dari kursinya, bersiap untuk meninggalkan ketegangan yang menyesakkan itu.“Terima kasih sudah pulang dengan tangan hancur, setidaknya aku punya pekerjaan malam ini.”Baru saja Elara melangkah satu tindak, tangan Valerius yang tidak terluka menyambar pergelangan tangannya. Sentakannya tidak kasar, namun penuh penekanan yang membuat Elara terhenti.“Dudukl
Read more