Lyra menarik napas panjang, mencoba menelan gumpalan sesak yang menyumbat tenggorokannya. Ia menggeser duduknya, merapatkan selimut wol di kaki Elara dengan gerakan yang jauh lebih lembut daripada biasanya.Di dalam kamar yang hanya diterangi sisa cahaya lilin, ia mencoba menciptakan gelembung ketenangan di tengah badai kecemasan yang melanda kastil.“Makanlah sedikit, Elara. Bubur ini tidak akan mendinginkan hatimu, tapi setidaknya ia bisa memberi kekuatan untuk bayimu,” ucap Lyra sambil menyodorkan sendok perak, suaranya masih terdengar parau.Elara menerima satu suapan kecil, namun matanya tetap tertuju pada wajah Lyra yang tampak rapuh.“Kau berbohong tadi, Lyra. Kau tidak menangis karena merapikan laboratorium. Kau menangis karena Hans, bukan? Karena dia pergi tanpa sempat kau beri obat penenang untuk sifat cerobohnya.”Lyra tertawa getir, jemarinya menyapu sudut matanya yang masih lembap. “Ksatria tolol itu tidak butuh obat penenang, dia butuh keajaiban. Tapi lupakan sejenak ten
Read more