Aku menepuk jidatku pelan. "Oh iya, Mar! Astaga, aku sampai lupa. Ini aku langsung jalan ke sana sekarang."Aku segera memberhentikan mobilku di tepi jalan sebelum berbelok menuju pekarangan rumah. BMW hitam milik Ayah baru saja melewati pintu gerbang. Tanpa membuang waktu, aku merogoh ponsel dan menghubungi nomor Ayah."Yah, maaf banget. Sepertinya aku tidak bisa ikut masuk ke dalam rumah. Aku harus segera ke showroom sekarang, ada janji penting sama pembeli mobil," kataku cepat."Oh, iya tidak apa-apa, Ris. Kamu pergi saja urus pekerjaanmu, biar Ayah yang selesaikan masalahmu dengan Risma di rumah," jawab Ayah dari balik telepon. Suaranya terdengar sangat lega, seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya."Makasih ya, Yah. Kalau begitu aku jalan dulu."Aku menutup panggilan dengan senyuman sinis. Tentu saja Ayah merasa lega dan senang aku pergi. Entah rencana gila apa lagi yang akan disusun Ayah untuk membungkam Risma dan kedua orang tuanya. Lagipula, aku memang sudah mua
Dernière mise à jour : 2026-08-08 Read More