Jantungku seketika berdegup kencang oleh gelombang amarah yang meledak."Kamu yang kirim amplop cokelat itu, kan?! Siapa kamu sebenarnya?! Apa maumu, Hah?!" teriakku murka sembari mencengkeram kemudi."Kamu nanti juga tahu... Yang jelas, turuti perintahku jika kamu ingin tetap selamat dan aman!" jawab suara misterius itu dingin."Halo?! Jawab aku, Bangsat! Halo...!"*TUT... TUT... TUT...*Sambungan ditutup secara sepihak. Aku memukul roda kemudi kencang-kencang, meluapkan segala emosi dan amarah di dalam mobil.Aku tiba kembali di rumah, suasana di lobi dan ruang tengah tampak dipenuhi orang. Tante Rina dan Tante Lisa sudah ada di sana, sibuk menjaga Nikita di dalam kamar. Di teras depan, Pak Nana, Pak Diki, dan Gunawan tampak duduk melingkar di kursi kayu sembari menikmati kopi, memasang raut muka tegang.Saat aku melangkah masuk, suara jeritan histeris kembali meledak dari arah kamar atas. Nikita rupanya sudah siuman dari pingsannya, namun kondisinya makin tidak terkendali."LEPASI
Last Updated : 2026-08-13 Read more