Nikita sedang menungging, membelakangi Gunawan. Jubah sutranya sudah terlempar ke lantai. Punggungnya yang putih dan mulus terlihat berguncang hebat setiap kali Gunawan menghantamnya dari belakang dengan kasar. "Ahh terus Gun, lebih kencang lagi!” rintih Nikita sambil mencengkram sprei. "Terima ini, Nyonya! Aku bakal bikin Nyonya puas!" Gunawan menggeram, tangannya meremas pinggul Nikita yang berisi hingga meninggalkan bekas merah. Tak lama, sepertinya mereka telah mencapai titik kepuasan itu. “Ughh … tongkolmu ini memang jagoan, Gun,” lirih Nikita dengan napas tersenggal. Gunawan tersenyum puas, lalu melepas penyatuan mereka dan duduk di samping Nikita. “Kalau nggak jagoan, Nyonya gak mungkin bisa puas, kan.” Nikita tersenyum sesaat, lalu kembali mengatur napasnya sambil terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu. "Tua bangka itu masih belum sadar, kenapa gak sekalian mati saja ya. Padahal obatnya sudah lama gak aku bayar, dokternya juga bilang dia sering drop," ucap Nikita,
Read more