Perjalanan dari rumah Menteng menuju gedung pusat Mahameru Group pagi itu terasa sangat lambat. Pak Maman menyetir dengan sangat hati hati, sementara Satria duduk di kursi penumpang depan dengan mode siaga penuh. Matanya setajam elang, terus menyapu spion dan jalanan di luar kaca jendela.Di kursi belakang, Vera duduk tegak sambil memangku tabletnya. Walaupun wajahnya terlihat tenang, jari jarinya yang mencengkeram pinggiran tablet menunjukkan kalau bos besar itu juga sedang tegang menunggu serangan dadakan.Tapi, sampai mobil mewah itu melewati jalan protokol, masuk ke kawasan perkantoran elit, dan akhirnya berbelok mulus ke area parkir VIP gedung Mahameru Group, tidak ada satu pun hal mencurigakan yang terjadi. Boro boro dicegat gerombolan preman, tukang ojek yang ugal ugalan saja tidak ada yang mendekat.Pak Maman menghentikan mobil tepat di depan lobi khusus petinggi perusahaan. Satria turun duluan, memutar pandangannya ke sekeliling dengan dahi berkerut bingung. Dia lalu membukak
Ler mais