Se connecter"Gue akuin, persiapan lu pada lumayan rapi hari ini," ucap Satria dengan suara baritonnya yang tenang dan berat, memecah kesunyian gudang yang mencekam.Satria memajukan badannya sedikit, menopang sikunya di atas paha. Tatapannya berubah jadi sangat dalam dan mengintimidasi, seolah dia yang sedang mengepung mereka semua, bukan sebaliknya."Mungkin kalian para mafia bayaran ini punya senjata api yang banyak dan mematikan. Nyali kalian juga boleh diadu kalau lagi main keroyokan begini," lanjut Satria dengan nada bicara yang sangat teratur, persis seperti orang yang sedang memberikan pengumuman penting."Tapi sayang banget, kalian semua lupa. Kalian tidak punya satu hal..."Satria sengaja memutus kalimatnya tepat di situ.Dia menutup mulutnya rapat-rapat. Bibirnya hanya menyunggingkan senyum miring yang sangat meremehkan. Suasana di dalam gudang pelabuhan itu mendadak hening total. Hanya terdengar suara deru napas kasar dari beberapa preman yang tegang.Trik psikologis jalanan yang dimai
Satria masih duduk santai di atas kursi kayu usang itu. Tangannya mengetuk-ngetuk pelan sandaran kursi, sama sekali tidak peduli dengan kilatan logam dari belasan moncong senjata api yang mengepungnya."Gue kadang heran sama jalan pikiran orang kaya macam lu, Bas," ucap Satria memecah keheningan gudang. Nada suaranya dibuat sangat meremehkan, persis seperti orang tua yang sedang menasihati anak kecil yang nakal."Muka lu lumayan. Duit lu banyak, ya walaupun itu juga hasil ngerampok harta bapak lu. Tapi kelakuan lu bener-bener kayak bocah ingusan yang lagi tantrum gara-gara permennya direbut teman sedusut. Cengeng banget," lanjut Satria sambil menggelengkan kepalanya pelan.Mendengar makian yang sangat santai tapi menohok itu, Bastian yang berada di balkon lantai dua malah terdiam sesaat. Matanya melebar, lalu sedetik kemudian tawa keras meledak dari mulut bos muda itu. Tawanya menggema ke seluruh penjuru gudang yang sepi."Hahaha! Gila bener lu, Satria!" seru Bastian sambil memegangi
Puluhan moncong senjata api kini terkunci lurus ke arah Satria. Suasana di dalam gudang yang pengap itu mendadak jadi setegang film aksi. Tapi anehnya, target yang lagi dikepung malah tidak kelihatan panik sama sekali.Satria memasukkan kembali ponsel bututnya ke dalam saku celana training parasitnya dengan gerakan sangat santai. Bukannya angkat tangan atau memohon ampun, ujung bibir Satria malah tertarik ke atas. Dia tersenyum lebar menampakkan deretan giginya, seolah olah dia cuma lagi nonton pertunjukan sirkus gratisan.Mata Satria menyapu sekeliling gudang. Dia melihat ada sebuah kursi kayu usang yang kakinya sudah agak miring tergeletak di dekat tumpukan kardus. Tanpa mempedulikan belasan orang yang siap menarik pelatuk, Satria berjalan santai menghampiri kursi itu.Dia menarik kursi kayu tersebut ke tengah ruangan, tepat di bawah sorotan lampu gantung yang agak redup. Satria menjatuhkan pantatnya di sana, duduk bersandar sambil menyilangkan kaki kanannya ke atas lutut kiri. Tang
Setelah memberikan janji manis yang terdengar gila itu kepada Nona Vera, Satria langsung pamit keluar dari gedung Mahameru Group. Dia tidak punya waktu buat nongkrong di lobi atau minum kopi di kantin. Langkahnya panjang dan cepat menuju tempat parkir luar.Sambil berjalan, Satria menempelkan ponsel bututnya ke telinga. Nada sambung berbunyi beberapa kali sebelum akhirnya terdengar suara serak dari seberang sana."Woi, Satria! Tumben lu nelpon gue siang bolong begini. Ada angin apa nih? Katanya lu udah insaf jadi orang kantoran," sapa Kohar Mata Elang dengan nada mengejek.Satria tertawa kecil. "Insaf apanya, Har. Gue lagi butuh info cepat nih. Lu tahu kan perusahaannya si Bastian? Yang suka main proyek gede itu.""Oh, si bos muda belagu itu? Tahu lah. Kenapa emangnya? Lu nyari masalah sama dia?" tanya Kohar mulai serius.
Satria duduk bersandar di kursi tunggu yang ada di depan ruang rapat utama. Ruangan itu berdinding kaca tebal kedap suara, jadi Satria bisa melihat jelas semua kepanikan yang terjadi di dalam tanpa mendengar suaranya.Di dalam sana, suasananya benar benar kacau balau. Nona Vera berdiri di ujung meja oval sambil menunjuk nunjuk layar proyektor dengan wajah tegang. Beberapa pria berjas rapi yang kelihatannya adalah manajer dan direktur perusahaan tampak menunduk lesu sambil memegang dahi mereka masing masing. Kertas kertas laporan berserakan di atas meja.Melihat bos galaknya yang biasa tampil penuh percaya diri sekarang terlihat sangat tertekan, dada Satria rasanya ikut sesak. Dia mengusap wajahnya kasar lalu menyandarkan kepalanya ke tembok."Buset dah," gumam Satria sendirian. "Kalau disuruh ngelawan orang bawa celurit sih gue tinggal maju. Lha ini lawannya ke
Perjalanan dari rumah Menteng menuju gedung pusat Mahameru Group pagi itu terasa sangat lambat. Pak Maman menyetir dengan sangat hati hati, sementara Satria duduk di kursi penumpang depan dengan mode siaga penuh. Matanya setajam elang, terus menyapu spion dan jalanan di luar kaca jendela.Di kursi belakang, Vera duduk tegak sambil memangku tabletnya. Walaupun wajahnya terlihat tenang, jari jarinya yang mencengkeram pinggiran tablet menunjukkan kalau bos besar itu juga sedang tegang menunggu serangan dadakan.Tapi, sampai mobil mewah itu melewati jalan protokol, masuk ke kawasan perkantoran elit, dan akhirnya berbelok mulus ke area parkir VIP gedung Mahameru Group, tidak ada satu pun hal mencurigakan yang terjadi. Boro boro dicegat gerombolan preman, tukang ojek yang ugal ugalan saja tidak ada yang mendekat.Pak Maman menghentikan mobil tepat di depan lobi khusus petinggi perusahaan. Satria turun duluan, memutar pandangannya ke sekeliling dengan dahi berkerut bingung. Dia lalu membukak
Dia melempar beberapa lembar foto ke tengah meja. Foto-foto itu memperlihatkan pertemuan rahasia antara Pak Handoko, Pak Rudianto, dan orang kepercayaan Tuan Brata di sebuah kelab malam. Ada juga bukti transfer rekening mencurigakan."Saya tahu kalian bermain mata dengan Brata," lanjut Vera, suaran
Ancaman itu begitu nyata. Aura membunuh yang dipancarkan Satria membuat Pak Handoko merasa seperti sedang berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa. Kakinya lemas, dia jatuh terduduk kembali ke kursinya. Keringat dingin mengucur deras membasahi kemeja mahalnya.Pak Rudianto di sebelahnya bahkan sud
Sementara Satria sedang menikmati Wagyu A5 yang meleleh di mulutnya di restoran Jepang yang sejuk, situasi yang sangat kontras terjadi di belahan lain kota Jakarta.Di sebuah gedung perkantoran mewah di kawasan Kuningan, tepatnya di lantai 40 yang merupakan penthouse pribadi, suasana terasa begitu
Lima menit berlalu sejak Vera memberikan perintah tegas kepada Pak Darto untuk melanjutkan pekerjaan. Suasana proyek yang tadinya mati suri kini mulai menggeliat hidup. Deru mesin molen pengaduk semen kembali meraung, bersahutan dengan teriakan para tukang yang mengangkut bata hebel. Debu merah kem







