“Cepat periksa! Lihat wajahnya semerah itu, tubuhnya pasti sedang tidak baik-baik saja,” seru Ohmad dipenuhi kecemasan.Hekim melangkah masuk tergesa, segera meletakkan tas pengobatannya di atas meja kecil di samping ranjang. Di belakangnya, Ohmad mengekor dengan raut wajah yang tegang.Matanya langsung tertuju pada Yasmin yang saat ini tampak begitu kontras, kulitnya yang pucat kini merona hebat menyerupai warna merah delima.“Aku baik-baik saja, tidak perlu diperiksa,” sahut Yasmin cepat, sambil mencoba mengatur napasnya yang masih berantakan.Dengan bantuan Ohmad, Yasmin bangkit dan bersandar pada kepala ranjang yang keras. Jemarinya meremas pinggiran selimut beludru dengan kencang, berusaha menyalurkan gejolak amarah yang tertahan di dadanya.Sementara itu, Erion masih berdiri di sisi ranjang, kokoh seperti pilar raksasa yang tidak tergoyahkan. Matanya tetap terpaku pada Yasmin, mengunci pandangan gadis itu tanpa berkedip sedikit pun.“Biarkan Hekim memeriksamu, Yasmin,” ujar Erio
Read more