“Mengepung? Sekarang?” Erion tersentak. Matanya melebar menatap Marib. “Apa maksudmu?”“Benar, Baginda,” lanjut Marib bersemangat. “Setelah mendengar ada persidangan besok pagi, hamba pikir ini adalah kesempatan emas. Kita bisa menyerang saat persidangan dimulai. Saat semua petinggi, termasuk Jetmir dan Raja, berkumpul di satu titik. Kita seperti menjaring ikan dengan satu umpan.”Marib menjeda sejenak, matanya berkilat tajam.“Benar apa yang katakan Baginda dulu, Putri Yasmina memang umpan terbaik untuk rencana kita. Saat vonis dijatuhkan, kita bergerak serentak. Kekacauan itu akan menjadi penutup sempurna bagi takhta Hazir.”Mendengar nama Yasmina disebut sebagai "umpan", darah Erion terasa mendidih. Memang benar, di awal rencana ialah yang menyusun skenario kejam itu.Masalahnya, sekarang jiwa yang mendiami tubuh Yasmina bukan lagi sosok yang ia benci. Erion menatap Marib dengan tatapan yang sanggup membunuh. “Aku tidak setuju,” desis Erion tajam.Marib tersentak. “Tapi Baginda, in
Read more