Voya berlari menembus kegelapan lorong istana dengan air mata memburamkan pandangan. Tujuannya hanya satu. Erion.Di lapangan latihan yang hanya diterangi beberapa obor Erion berdiri tegak, sedang membersihkan pedang panjangnya dengan sepotong kain putih dengan tenang.“Tuan Erion! Tuan!” teriak Voya histeris.Erion tidak langsung menoleh. Ia menyelesaikan satu usapan panjang pada bilah pedangnya sebelum melirik kecil ke arah Voya.“Berhenti berteriak,” ucap Erion datar, tanpa emosi.“Ampun Tuan… Tapi Tuan... tolong... Putri Yasmina!” Voya jatuh berlutut di depan Erion, jemarinya mencengkeram sepatu bot kulit ksatria itu.“Ajudan Raja membawa Tuan Putri! Mereka kasar sekali, Tuan! Saya sudah ke istana utama, tapi Tuan Putri tidak ada di sana! Tolong saya, Tuan!”Erion sempat mengerutkan keningnya. Kilatan aneh muncul di matanya beberapa detik, lalu ekspresi itu hilang secepat ia muncul, kembali datar.“Jika ajudan Raja yang membawanya, itu artinya perintah langsung dari Yang Mulia,” u
Read more