“Tuan Putri, ini pakaiannya. Waktunya tidak banyak lagi,” ucap Voya yang baru masuk membawa nampan berisi perlengkapan rias dan gaun yang sudah disiapkan jauh-jauh hari.Voya membentangkan sebuah gaun indah berwarna putih keperakan dengan sulaman benang sutra yang halus. “Ini gaun yang tempo hari dipilih bersama Baginda Erion, Tuan Putri.”Yasmina melirik gaun itu sekilas, lalu mendengus meremehkan. “Singkirkan kain kusam itu, Voya. Ambilkan gaun emas di lemari terdalam. Dan jubah emas juga.”Voya tertegun, matanya membelalak. “Tapi... Tuan Putri, Anda bilang warna ini melambangkan harapan baru bagi Pervane. Kata Anda warna emas terlalu mencolok, dan hanya Raja Ohmad yang memakai itu.”Yasmina berdiri, memutar tubuhnya dengan cepat hingga ujung jubah tidurnya menyapu lantai. Ia menatap Voya tajam, memaksa pelayan itu tersentak mundur.“Apa aku meminta pendapatmu?” tanya Yasmina dingin dan ketus. “Gaun itu bukan pilihanku. Ambilkan gaun emasku. Sekarang!”“Ba—baik, Tuan Putri. Maafkan
Read more