“Lepaskan zirah ini, Marib. Cepat,” perintah Erion dengan napas yang mulai berat.Pandangannya berbayang.Sebenarnya sejak tadi ia sudah merasakan rasa pusing, mual, dan sakit luar biasa di bagian lukanya, tapi ia menahannya demi Yasmin. Ia tidak ingin Yasmin lepas dari pelukannya.Marib bergerak gesit membuka kancing-kancing zirah hitam yang sudah penyok dan berlumuran darah kering. Saat logam berat itu terlepas, bau amis darah dan aroma tajam racun menyeruak.Di bahu dan punggung Erion, guratan luka akibat sisa serangan Jetmir tampak menghitam di tepiannya, pertanda racun masih berusaha merayap di bawah kulit sang raja.“Ampun Baginda, lukanya meradang, dan racunnya masih menyebar,” lapor Hekim senior sambil mendekatkan obor untuk memeriksa luka itu lebih teliti. “Hamba harus membersihkan jaringan matinya terlebih dahulu.”“Lakukan apa saja, jangan banyak bicara,” desis Erion. Ia mencengkram pinggiran kursi kayu hingga kuku-kukunya memutih.Hekim mulai menuangkan cairan alkohol keras
Read more