“Kau cerdas, Voya. Kau tahu kapan harus berpindah kapal sebelum kapal yang lama karam,” Sherapin tertawa, sambil menoleh ke sudut ruangan, tempat Voya berdiri mematung.Pelayan setia itu tidak menjawab, ia hanya menunduk dalam, meremas jemarinya sendiri hingga memutih. “Bawa Yasmina pergi. Masukkan dia ke kereta tertutup. Kita akan bertemu sang singa yang sudah kehilangan taringnya,” perintah Sherapin.Sementara itu, di jalur setapak menuju perbatasan Barat, Marib memacu kudanya hingga batas maksimal. Namun di sebuah persimpangan, ia menarik kekang kudanya kasar hingga hewan itu meringkik keras, berdiri di atas dua kaki belakangnya.“Berhenti!” perintah Marib kepada pasukan bayangan di belakangnya.“Ada apa, Panglima? Kita sebentar lagi sampai ke pos penjagaan!” seru salah satu prajurit.Marib tidak menjawab. Matanya yang tajam bak elang menangkap pergerakan di lembah sebelah kanan—jalur yang bukan menuju pos penjagaan, melainkan menuju sebuah reruntuhan kuil tua di perbatasan. Rombo
Read more