“Aku dengar kalian di serang pemberontak,” jawab Jetmir, tapi matanya tidak pernah lepas dari Yasmin.“Aku benar-benar lega kau baik-baik saja. Jika tidak, kau bisa terluka parah karena pemberontak itu,” ucap pria tertuju pada Yasmina. Suaranya terdengar lembut, namun menyimpan niat terselubung. “Apa masih ada luka lain yang belum sempat diperiksa?”Yasmin menelan ludah dengan susah payah. Ia memaksa dirinya untuk berbicara meski suaranya terdengar serak.“Te-terima kasih atas perhatiannya, Tuan Jetmir,” ucap Yasmin kaku, berusaha keras untuk tidak memanggil pria itu dengan nama “Karel” yang sudah terbiasa di lidahnya. “Tapi saya sangat lelah. Bisakah kita bicara lain kali?”“Jetmir, kita bicara nanti. Biarkan Putri Yasmina istirahat terlebih dahulu,” tegur Erion dengan nada otoriter yang dingin.Jetmir tersenyum yang tampak begitu berbahaya.“Tentu saja. Kesehatanmu adalah prioritas utama.” Ia melangkah lebih dekat, terlalu dekat untuk ukuran sopan santun, hingga Erion secara refleks
Read more