LOGINVoya berlari menembus kegelapan lorong istana dengan air mata memburamkan pandangan. Tujuannya hanya satu. Erion.Di lapangan latihan yang hanya diterangi beberapa obor Erion berdiri tegak, sedang membersihkan pedang panjangnya dengan sepotong kain putih dengan tenang.“Tuan Erion! Tuan!” teriak Voya histeris.Erion tidak langsung menoleh. Ia menyelesaikan satu usapan panjang pada bilah pedangnya sebelum melirik kecil ke arah Voya.“Berhenti berteriak,” ucap Erion datar, tanpa emosi.“Ampun Tuan… Tapi Tuan... tolong... Putri Yasmina!” Voya jatuh berlutut di depan Erion, jemarinya mencengkeram sepatu bot kulit ksatria itu.“Ajudan Raja membawa Tuan Putri! Mereka kasar sekali, Tuan! Saya sudah ke istana utama, tapi Tuan Putri tidak ada di sana! Tolong saya, Tuan!”Erion sempat mengerutkan keningnya. Kilatan aneh muncul di matanya beberapa detik, lalu ekspresi itu hilang secepat ia muncul, kembali datar.“Jika ajudan Raja yang membawanya, itu artinya perintah langsung dari Yang Mulia,” u
Beberapa jam sebelum Yasmin diseret. Di atas meja jati besar milik Raja, tergelar beberapa benda. Sebuah stempel pribadi Yasmina, sebuah botol kecil berwarna gelap, dan sebuah gulungan perkamen yang tampak kusam.“Yang Mulia, aku masih tidak percaya putri kesayangan kita melakukan ini. Hatiku hancur, aku benar-benar tidak bisa mempercayai ini,” ucap Ratu Cassia dengan suara yang pecah oleh isak tangisIa berdiri di samping kursi Raja, jemarinya yang lentik gemetar hebat seakan-akan kekuatannya telah habis.“Saat Velmire tiada, aku pikir itu adalah takdir yang kejam. Tapi melihat racun ini ditemukan tersembunyi di balik lemari Yasmina, aku merasa gagal menjadi ibu bagi mereka.”Ratu Cassia tidak meraung. Tapi isakannya yang tertahan justru terdengar jauh lebih menyayat hati bagi siapa pun yang mendengarnya. Sebuah pertunjukan penderitaan yang sempurna.“Apa aku kurang memberikan kasih sayang padanya selama ini?”Raja Hazir berdiri kaku. Matanya yang biasanya tajam kini diselimuti kabut
Malam sudah larut, terdengar pintu dibuka perlahan. Yasmin menegang. Tapi langsung lega saat melihat sosok mungil yang masuk dengan nampan kayu di tangannya, bahunya sedikit merosot.“Voya,” panggil Yasmin entah kenapa suaranya mengandung kerinduan. Mungkin karena seharian ia tidak bisa bebas menemui siapa pun.Dua pengawal zirah di depan pintu memperhatikan Voya curiga, memeriksa setiap inci nampan berisi sup gandum dan sekerat roti sebelum membiarkannya masuk.“Cepat, jangan terlalu lama di dalam,” bentak salah satu pengawal sebelum menutup pintu kembali.Voya tidak langsung meletakkan nampan itu di meja. Ia berjalan mendekati Yasmin hati-hati. Matanya melirik ke arah jendela dan pintu, memastikan tidak ada yang memata-matai.Begitu jaraknya cukup dekat dengan Yasmin. Voya meletakkan nampan itu dan langsung berlutut di depan kaki Yasmin.“Tuan Putri...” bisiknya. Suaranya pecah.“Voya, hey kau menangis lagi?” Yasmin mengusap kepala pelayannya itu dengan lembut. “Sudah kubilang, jang
“Ada yang ingin mengadu domba kita, Erion” desis Yasmin pelan, menatap tajam pria di depannya. “Siapa pun dia, dialah yang menulis ini. Bukan aku!”Ucapan Yasmin sebelum Erion meninggalkan paviliun sempat membuatnya sedikit ragu akan tuduhannya. Pikirannya diracuni oleh satu pertanyaan besar.“Siapa sebenarnya wanita di paviliun itu?”Untuk mencari jawaban, Erion berjalan menuju bagian terdalam penjara bawah tanah. Ia butuh kepastian. Jika dokumen itu menyebut Yasmina yang asli sudah mati, maka ia harus mendapatkan konfirmasi dari satu-satunya saksi yang tersisa.“Kalau benar Yasmina yang asli telah terbunuh dan digantikan oleh seorang penyamar dari Utara, maka selama ini ia telah membiarkan musuh tidur di sampingnya.”Sebelum Erion sampai di sel, indra tempurnya menangkap pergerakan asing. Di balik pilar batu yang lembap, seorang pria dengan penutup wajah hitam mencoba menyelinap masuk ke lorong rahasia menuju ruang bawah tanah.Dengan gerakan secepat kilat, Erion menghunus belatinya
“Mulai sekarang, lebih baik persiapkan saja dirimu untuk tetap berdiri tegak di panggung eksekusi nanti, Tuan Putri,” ucap Erion singkat.Yasmin terpaku menatap Erion tidak percaya. Baru saja beberapa saat yang lalu pria itu melindunginya dari Jetmir, sekarang pria malah terlihat ingin segera menyeretnya ke tiang gantungan.“Perketat penjagaan!” teriak Erion pada para prajurit sebelum keluar. “Dua kali lipat di setiap sudut paviliun! Jangan sampai ada yang keluar atau masuk satu inci saja sebelum fajar. Kepala kalian taruhannya!”Kaki Erion melangkah tegap menjauh meninggalkan gema ancaman yang membekukan darah. Berbeda dengan Jetmir yang berhenti di ambang pintu, berbalik sejenak untuk mendekati Yasmin.“Sampai bertemu nanti, sayang,” bisiknya, begitu rendah hingga hanya Yasmin yang bisa menangkap getaran liciknya.“Kau adalah pion yang manis. Tapi sayangnya, pion yang ingin berubah jadi ratu harus segera disingkirkan dari papan permainan. Jangan khawatir, aku akan membawamu kembali
“Akhirnya ketemu!” Suara Jetmir terdengar begitu puas.Yasmin dan Erion sama-sama menoleh ke arah yang sama ketika sosok Jetmir muncul di ambang pintu kamar dengan senyum yang sudah terkembang sempurna.Tangannya memegang sebuah kotak kayu hitam. Yasmin mengenalinya seketika.Kotak itu milik Yasmina. Tersimpan di laci paling bawah meja rias. Ia pernah membukanya saat pertama kali ia menyisir isi kamar ini untuk memahami kehidupan wanita yang tubuhnya ia tempati.Tentu Yasmin masih ingat dengan jelas isi kotak itu. “Ada surat balasan Jetmir di dalam sana. Rencana kejahatan mereka. Bukti keterlibatannya,” batinnya berteriak.Jetmir meletakkan kotak itu di atas meja terlihat menikmati momen ini.“Tersimpan rapi sekali,” ucapnya ringan, tangannya membuka penutup kotak tanpa meminta izin siapa pun.Yasmin tidak bergerak dari tempatnya, hingga sebuah ide yang terlambat datang muncul seperti kilat.“Kenapa aku tidak pern
Dua prajurit penjaga menarik rantai besi raksasa, membuat pintu kayu berlapis logam setinggi lima meter itu bergerak membuka lebar. Gerbang besar Istana Pervane terbuka perlahan dengan bunyi gemuruh yang menggelegar.Yasmin yang duduk di dalam tandu merasakan jantungnya berdebar— campuran antara ta
Kedai teh yang ditunjuk Elena terletak di sudut pasar yang lebih tenang, dengan balkon kayu yang menghadap langsung ke arah pelabuhan Pervane. Aroma melati dan kayu manis menguar, menyambut mereka saat melangkah masuk. Dengan sikap ksatria Erion menarikkan kursi untuk Yasmin dan Elena sebelum ia se
Marib, baru saja keluar setelah melaporkan pergerakan logistik di perbatasan. Suasana sunyi kembali menyergap, meninggalkan Erion yang larut dengan pikiran-pikirannya sendiri.“Siapa dia sebenarnya? Apa wanita itu seseorang yang sangat mirip dengan Yasmina, dan bertukar saat perburuan? Atau Yasmina
"Voya, panggil Menteri Jetmir," perintah Yasmin sambil merapikan sarung tangan kulitnya. "Katakan padanya aku ingin berjalan-jalan.”"Tuan Putri, Anda belum meminta izin Yang mulia untuk keluar istana?" Voya tampak ragu."Jetmir akan melakukannya untukku. Katakan saja ini aku benar-benar ingin berj







