“Jangan bergerak. Jika kau bersuara, kita berdua akan mati,” bisik pria itu tepat di telinganya. Suaranya rendah, berat, dan penuh otoritas itu menghentikan perlawanan Yasmin dalam seketika. Tangan besar itu masih membekap mulut Yasmin terasa kasar namun hangat.Di luar sana, tepat di balik dinding paviliun, suara langkah kaki yang terburu-buru menginjak dedaunan kering terdengar mendekat.“Siapa di sana?!” teriak Ohmad terdengar panik dan tajam, sangat kontras dengan pembawaannya yang biasanya tenang.“Mungkin hanya angina tau binatang, Yang Mulia,” bisik Katrina gemetar, tangannya mencengkeram lengan Ohmad.“Angin tidak menginjak ranting sampai berbunyi sekeras itu.”Yasmin merasakan tubuhnya menegang. Secara refleks tubuhnya mundur lebih jauh, tapi justru membuatnya semakin menempel pada dada pria itu. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu merembes melalui gaun yang dikenakannnya. Detak jantungnya terdengar teratur dan tenang, sangat kontras dengan detak jantung miliknya yang
Read more