Aula yang tadinya dipenuhi melodi manis dan gerakan dansa yang anggun mendadak berubah. Kebisingan pecah dalam sekejap—bisik-bisik tajam, pekikan tertahan, dan denting perhiasan yang beradu saat para bangsawan berdesakan untuk melihat apa yang terjadi di pojok ruangan. Di pusat badai itu, William berdiri dengan wajah yang diselimuti kemarahan murni, mendekap tubuh Lily yang tampak rapuh dan tak berdaya dalam gendongannya.Namun, suasana yang riuh itu mendadak hening, seolah-olah oksigen di ruangan itu baru saja disedot habis. Semua mata tertuju pada jari telunjuk Lily yang bergetar, menunjuk lurus ke arah satu titik, Elizabeth Ratore.Elizabeth, yang masih terduduk di lantai setelah didorong dengan kasar oleh William, hanya bisa mematung. Ia merasakan denyut nyeri di sikunya, namun rasa perih itu tidak sebanding dengan rasa dingin yang merayap di punggungnya saat ia mengangkat pandangan.Belum sempat sepatah kata pun keluar dari bibirnya, ia sudah dihantam oleh tatapan-tatapan yan
Terakhir Diperbarui : 2026-04-23 Baca selengkapnya