“Wanita gila!” teriak Nick yang ditahan kedua anak buah Lucien.Aku melangkah mundur, menatap kobaran api yang mulai meninggi. Melahap apa pun yang tersentuh.“Tasku, bajuku, sepatuku, perhiasanku,” ratap Grace. Air matanya jatuh berhamburan di wajahnya. Rambut berantakan wanita itu menempel di pipi dan kening. Jubah tidurnya merosot ke ujung lengan. Lingerie yang dikenakannya nyaris tidak menutupi apa pun ketelanjangan Grace.“Semua milikku,” sambungku. Setiap sen yang diambil Grace adalah milikku.“Kau sudah memberikan semuanya padaku. Dasar gila!” jerit Grace. Wajahnya lebih pucat lagi. Saat kemudian tiba-tiba wanita itu berhent meronta dari cekalan Kael. Tubuhnya kemudian jatuh meluruh ke tanah berumput. “P-perutku …”Nick menoleh, melepaskan pegangan anak buah Lucien dan menghampiri Grace. Menangkap punggung wanita itu dan menyandarkannya di dadanya. “K-kakimu …”Grace sedikit mengangkat kepalanya. “D-darah? Anak kita.”Nick memutar kepala ke arahku. Wajahnya yang pucat berubah m
Read more