Lastri mengepalkan tangannya di balik kebaya. "Sari, jaga bicaramu! Kamu mendapatkan informasi sesat dari siapa sampai berani menuduhku begitu?" Lastri melirik tajam ke arah Mbok Ijah. Pelayan tua itu semakin menciut dan tidak berani mengangkat wajah.Suasana di antara dua istri taipan itu semakin memanas. Sari sudah hampir membuka mulutnya untuk melontarkan tuduhan yang lebih vulgar, ketika tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berlari dari arah samping villa."Nyonya! Nyonya Besar!"Semua orang menoleh. Baskara muncul dengan napas tersengal-sengal, keringat mengucur deras di keningnya. Bajunya tampak kotor oleh tanah, dan lengannya sedikit berdarah, memberikan kesan bahwa ia memang baru saja bekerja keras di jalanan."Maaf ... maafkan saya, Nyonya Besar," ucap Baskara sambil membungkuk dalam di depan Lastri, lalu pura-pura kaget saat melihat Sari. "Eh, ada Nyonya Sari juga? Dan Pak Rahmat? Ada apa ini?"Baskara mengatur nafasnya, aktingnya terlihat sangat meyakinkan. "Maaf, Nyonya
Magbasa pa