Sekar menjeda kata-katanya dan kemudian kembali menyandarkan kepalanya, namun kali ini suaranya berubah menjadi lebih pelan, hampir berupa bisikan yang malu-malu namun sarat akan maksud tertentu."Bas ... nanti malam Tuan Broto tidak akan pulang lagi. Yang pasti dia tidak akan ke kamarku."Baskara tetap fokus pada jalanan, namun telinganya terpasang tajam. "Kok kamu tahu?""Tadi siang, saat aku sedang menyiapkan kopinya, aku tidak sengaja mendengar dia berbicara di telepon dengan temannya. Dia bilang ingin main kartu bersama teman-temannya di klub seperti biasanya. Kemungkinan besar dia baru pulang besok fajar dalam keadaan mabuk," Sekar menjeda kalimatnya, meremas ujung jariknya. "Jadi ... kalau bisa, kamu ke kamarku ya, Bas? Tengah malam nanti."Baskara nyaris menginjak rem secara mendadak. Jantungnya kembali berpacu. Ini bukan sekadar permintaan, ini adalah undangan terbuka untuk memasuki area paling terlarang di kediaman Tuan Broto."Kar, kamu sadar apa yang kamu minta? Penjagaan
Magbasa pa