Dekapan Sekar begitu erat, seolah-olah jika ia melonggarkan jemarinya sedikit saja, Baskara akan lenyap ditelan kegelapan malam. Baskara menarik napas panjang, aroma harum dari rambut Sekar merasuki indranya, memberikan rasa tenang sekaligus perih yang menghujam jantung. Ia melepaskan pelukan itu perlahan, memegang kedua bahu Sekar, dan menatap lurus ke dalam matanya yang basah. "Kar, dengarkan aku baik-baik," suara Baskara rendah namun penuh penekanan. "Aku akan membawamu pergi. Aku berjanji." Mata Sekar seketika berbinar. Sebuah harapan baru tampak menyala di sana, menghalau mendung kesedihan yang sejak tadi menggelayut. "Benarkah, Bas? Kamu tidak bohong padaku?" Baskara mengangguk, meski di dalam hatinya ia tahu betapa berbahayanya janji itu. "Tapi tidak sekarang. Kita tidak bisa lari tanpa persiapan. Tuan Broto punya mata dan telinga di mana-mana. Jika kita nekat, kita hanya akan menyerahkan leher ke algojonya sebelum sampai ke perbatasan Djakarta." "Lalu kapan, Bas?" tanya Se
اقرأ المزيد