Baskara memegang kemudi dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia sadar, ia telah terperosok ke dalam lubang yang ia gali sendiri. Menur bukan hanya menginginkan tubuhnya, tapi juga kepatuhan mutlaknya."Kita harus pulang segera, Nyonya," tegas Baskara lagi.Menur bersandar dengan anggun, ia melipat tangannya di dada. "Baiklah, aku izinkan kamu pulang. Tapi ingat satu hal, Baskara. Mulai malam ini, kamu harus berada di pihakku. … Jangan berpihak pada Lastri yang lemah itu, jangan pada Sari yang dungu, apalagi pada Sekar. Mereka tidak akan bisa melindungimu dari kemarahan Tuan Broto sehebat aku melindungimu.""Saya hanya sopir, Nyonya. Tugas saya hanya mengantar dan menjemput," jawab Baskara pelan, berusaha menjaga jarak profesionalitasnya yang sudah hancur lebur.Menur sedikit memajukan tubuhnya, jemarinya yang dingin mengusap lembut bahu Baskara dari belakang. "Kamu memang sopir ... tapi sekarang, kamu adalah milikku, Baskara. Jangan pernah lupakan itu."Menur kemudian merogo
Magbasa pa