"Kar ... dengarkan aku baik-baik," bisik Baskara tepat di telinganya. "Apapun yang kamu dengar dari Pak Jono, dari Mbok Ijah, atau dari siapa pun di rumah ini ... itu tidak mengubah fakta bahwa satu-satunya wanita yang aku cintai dengan tulus adalah kamu. Semua yang aku lakukan dengan Sari, dengan Menur, itu semua adalah bagian dari permainan bertahan hidup. Aku harus melakukan ini agar posisi kita aman.""Tapi rasanya sakit, Bas ... melihatmu pergi berdua dengan mereka," isak Sekar pelan.Baskara memutar tubuh Sekar agar menghadapnya. Dalam keremangan cahaya bulan, ia bisa melihat air mata yang menggenang di pipi gadis itu. Baskara mengusapnya dengan ibu jari."Aku janji, suatu hari nanti kita akan keluar dari penjara Menteng ini. Kita akan punya rumah sendiri, tanpa harus bersembunyi seperti ini," ujar Baskara meyakinkan.Untuk membuktikan ucapannya, Baskara menundukkan kepalanya, mencari bibir Sekar. Awalnya, ciuman itu terasa ragu dan penuh permintaan maaf. Namun, saat bibir mer
Magbasa pa