Desis uap dari radiator yang bocor perlahan mereda, digantikan oleh kesunyian yang mencekam di jalanan pinggiran Djakarta yang sepi itu. Baskara masih berjongkok di dekat roda depan Chevrolet yang ringsek, jemarinya yang belepotan oli dan darah mengusap bekas potongan rapi di kabel rem. Amarah Baskara membakar dadanya, bukan hanya karena nyawanya terancam, tapi karena Sekar, gadis yang seharusnya ia lindungi hampir saja tewas karena intrik busuk di rumah Menteng.Ia berdiri tertatih, kepalanya masih berdenyut hebat. Darah di pelipisnya mulai mengering, meninggalkan rasa kaku yang tidak nyaman. Ia menoleh menatap Sekar yang berdiri tak jauh darinya. Wanita itu nampak begitu rapuh, kebayanya kotor oleh debu parit, dan tatapan matanya masih menyiratkan trauma yang mendalam."Kenapa, Bas?" ulang Sekar, suaranya bergetar menuntut jawaban. "Kenapa kita harus berbohong? Seseorang mencoba membunuh kita, Bas! Tuan Broto harus tahu!"Baskara melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara me
Read more