登入"Jelaskan." Uryu bahkan tidak mengangkat kepala."Kami kehilangan kontak dengan Sindikat Taring Ular." Pemuda itu segera melapor. "Sesuai rencana, Vexar seharusnya mengirim sinyal konfirmasi dua jam yang lalu, tetapi sampai sekarang kami belum menerima apa pun."Gerakan tangan Uryu akhirnya berhenti sejenak. "Lanjut.""Aku juga sudah mencoba menghubungi dua anggota kita yang ditempatkan di Sindikat Taring Ular, tetapi keduanya tidak memberikan respons."Kali ini Uryu meletakkan kain pembersih senjatanya. Ia perlahan mengangkat kepala, memperlihatkan sepasang mata yang sedalam sumur tanpa dasar di bawah cahaya redup gua. "Kapan terakhir kali kalian berhubungan dengan mereka?""Pukul 04.17 pagi."Jawaban itu keluar tanpa ragu.Uryu kembali terdiam beberapa saat. "Pagi ini terdengar ledakan dan baku tembak dari arah lembah selama kurang lebih empat puluh menit. Setelah itu semuanya kembali sunyi."Nada bicaranya tetap datar. Ia sedang menyampaikan sebuah kesimpulan, bukan mengajukan pert
Pada saat yang sama, sekitar dua puluh kilometer di timur laut, Gua Kelam.Meski menyandang nama gua, bentang alam di tempat itu sama sekali tidak terlihat seperti sebuah gua biasa.Kawasan tersebut merupakan jaringan gua alami yang terbentuk dari pegunungan batu kapur dan tersembunyi di antara tebing-tebing yang menjulang tinggi. Mulut guanya tertutup rapat oleh sulur tanaman dan semak belukar yang lebat hingga nyaris mustahil ditemukan tanpa mengetahui lokasi pastinya. Di depannya mengalir sungai berarus deras dengan air yang tampak hitam pekat, bukan karena tercemar, melainkan akibat warna batuan di dasar sungai.Menurut legenda setempat, aliran itu terhubung dengan dunia bawah sehingga dikenal sebagai Air Kelam. Dari sanalah nama Gua Kelam berasal.Namun kenyataannya, air tersebut berasal dari sungai bawah tanah yang jernih dan layak diminum. Warna hitam yang terlihat dari permukaan hanyalah efek pembiasan cahaya pada batuan di dasar sungai.Bagian dalam gua jauh lebih rumit darip
Ia berjalan tertatih menuju batu besar di tepi sungai. Setelah sekali lagi memastikan tak ada siapa pun di sekitar, Vexar langsung berjongkok dan mulai menggali tempat persembunyian barang-barangnya.Jemarinya menembus lapisan pasir, tetapi sentuhannya terasa terlalu lembut. Seketika tubuh Vexar membeku.Ia masih ingat betul bagaimana sebelumnya menimbun barang-barang itu. Setelah menguburnya, ia sengaja mengambil pasir kering dari sisi lain untuk menutupi bekas galian, lalu meletakkan beberapa kerikil di atasnya agar terlihat alami.Namun sekarang, pasir di depannya jelas pernah dibongkar, bahkan posisi kerikil yang digunakan sebagai penyamaran pun telah berubah. Wajah Vexar seketika berubah pucat. Ia langsung mengeruk pasir dengan kedua tangan secepat mungkin hingga butiran pasir beterbangan ke segala arah. Galian itu semakin dalam, dari sepuluh sentimeter menjadi dua puluh, lalu tiga puluh sentimeter, tetapi yang ditemukannya hanyalah kekosongan. Tas kain hitam itu telah lenyap, b
Wilayah inti Keluarga Mahardika.Saat membaca laporan pertempuran terbaru, wajah Adelina yang semula pucat akhirnya kembali memperlihatkan sedikit warna. "Serangan Keluarga Wijaksana mulai melemah, sementara Keluarga Nirvana sudah beralih ke posisi bertahan."Ia bergumam pelan, senyum tipis yang sulit diartikan perlahan terukir di sudut bibirnya."Aku benar-benar tidak menyangka Sindikat Noctis memiliki kekuatan sebesar ini.""Kak." Pramudya yang berdiri di sampingnya masih tampak cemas. "Sindikat Noctis memang berhasil memberi kita waktu, tapi syarat yang mereka ajukan—""Kita tidak punya kemewahan untuk memikirkan itu sekarang." Adelina memotong ucapannya tanpa ragu. "Kalau rintangan ini saja tidak mampu kita lewati, membicarakan masa depan tidak akan ada artinya."Ia bangkit dari kursinya lalu melangkah ke depan peta pertempuran. Di atasnya, panah-panah merah yang melambangkan serangan Keluarga Wijaksana dan Keluarga Nirvana masih mengarah lurus ke jantung wilayah Keluarga Mahardik
Pos komando Keluarga Wijaksana, siang hari itu."Apa sebenarnya yang dilakukan Arka dan kelompoknya? Sudah dua hari berlalu, tapi belum ada hasil sama sekali!"Raungan Bramantyo menggema hingga seolah hendak merobohkan atap pos komando. Ia berdiri di depan meja peta tempur berukuran besar dengan mata memerah. Kedua tangannya mencengkeram sisi meja begitu erat hingga urat-urat di punggung tangannya tampak menonjol.Di atas meja, bendera-bendera biru yang mewakili pasukannya telah memenuhi garis pertahanan Keluarga Mahardika, tetapi tetap tidak mampu menembusnya."Bukan berarti mereka tidak melakukan apa-apa." Sang ajudan menimpali dengan nada menyindir. "Setidaknya Keluarga Mahesa cukup cepat mengambil alih wilayah Keluarga Montara. Mereka tahu betul mana sasaran yang mudah."Bramantyo memejamkan mata, berusaha meredam amarahnya. Ketika kembali membukanya, sorot matanya hanya menyisakan ketenangan yang dingin dan penuh perhitungan."Kalau mereka memang tidak sanggup menyelesaikan tugas
Setelah mereka bertiga mengejar hampir tiga kilometer lagi, mereka tiba di tepi sebuah sungai.Di sanalah jejak kaki Vexar benar-benar lenyap, ia telah kabur menyeberangi sungai."Berpisah disini." Perintah Arka terdengar tegas."Niko, kau telusuri ke arah hulu. Arga, kau periksa bagian hilir. Aku akan tetap di sini. Cari dalam radius dua ratus meter dari sungai. Lima belas menit lagi kita berkumpul kembali, ada atau tidak ada hasil.""Siap!""Dimengerti!"Keduanya segera bergerak ke arah yang berbeda.Arka tetap berjongkok di tepi sungai sambil mengamati aliran air, dasar sungai, serta vegetasi di kedua sisinya. Sungai itu tidak terlalu dalam. Di bagian terdalam sekalipun, airnya hanya mencapai lutut, sementara arusnya mengalir tenang.Kalau Vexar sengaja menyeberang lewat sini, tujuannya kemungkinan untuk menghapus jejak kaki, membersihkan luka, atau meredakan pembengkakan pada tubuhnya.Tatapan Arka akhirnya berhenti di seberang sungai. Di dekat sebuah batu besar, pasir di sekitarn
Rendra memejamkan mata. Tarikan napasnya panjang, berat. Ketika matanya terbuka kembali, sesuatu telah berubah. Niat membunuh itu tidak hilang, tapi ditekan dalam-dalam, digantikan oleh sesuatu yang lebih dingin.Ia berbalik, menatap seluruh anggota keluarga satu per satu. “Semua yang kalian lihat
Beberapa detik berlalu tanpa suara, hingga akhirnya Arka menoleh perlahan ke arah Mireya di kursi depan. Matanya sedikit memerah, terdapat duka yang jarang terlihat di sana.“Reya...” suaranya lebih berat dari biasanya, “Kompensasi untuk keluarga saudara-saudara kita sudah selesai?”Mireya langsung
Di lantai bawah.Taman rumah sakit diterangi lampu taman kekuningan. Angin malam bertiup pelan, membawa aroma daging panggang.Garuda Hitam, Taring Baja, dan Arga duduk mengelilingi meja kecil. Di atasnya persis, tusuk sate, bir dingin, dan asap tipis yang mengepul.Suasananya berat, tidak ada yang
Mireya menatapnya dengan mata berkilat, senyum misterius tersungging. Wanita itu jelas tidak datang sekadar menjenguk.Bangsal yang sebelumnya sunyi kini berubah hangat sekaligus tegang dengan kehadiran tiga wanita yang memancarkan pesona berbeda.Aroma disinfektan yang biasanya dominan perlahan te







