LOGINLorenzo akhirnya membuka suara. “Ceritakan semuanya.”Nada bicaranya pelan dan tenang, namun setiap kata terasa seperti es tajam yang menghantam lantai. “Apa yang sebenarnya terjadi di Bar Mahkota? Bagaimana putraku bisa mati?”Tok. Tok. Tok.Jemarinya mengetuk-ngetuk ringan sandaran kursi.“Jelaskan semuanya, jangan melewatkan detail sekecil apa pun.” Ia berhenti sepersekian detik. “Dan jangan mencoba melebih-lebihkannya.”Kalimat terakhir itu langsung membuat ketiga pria di bawah sana semakin pucat.Salah satu dari mereka, pria bertubuh kurus dengan luka tembak di bahu, menarik napas berat sebelum akhirnya mulai berbicara dengan suara serak.“Tuan Muda awalnya ingin memanfaatkan konflik antara Keluarga Mahesa dan Sindikat Taring Ular di Bar Mahkota. Beliau ingin mengambil alih wilayah sekitar bar dan mencari kesempatan untuk melemahkan Keluarga Mahesa sekaligus merebut jalur Perairan Duskara.”Ia mulai menjelaskan semuanya secara rinci.Mulai dari kedatangan mereka di Kota Vantara,
“Obati kembali luka yang terbuka tadi, dan awasi semua tanda vitalnya.” Nada suaranya tetap tenang dan jelas. “Terutama aliran darah, respons saraf, serta perubahan hormon dan sistem hormonnya. Catat semua perubahan sebelum dan sesudah dia meminum pil itu.”Wiraputra langsung mengangguk serius.Namun Arka belum selesai. “Ambil satu pil dari botol penawar itu. Lalu lakukan analisis komponen sedetail mungkin.”Pandangan matanya kembali jatuh pada botol porselen hijau di meja. “Aku ingin tahu sebenarnya benda itu terbuat dari apa, dan kenapa reaksinya berubah menjadi penekanan, pemulihan sesaat, lalu langsung memburuk seperti tadi.”Wiraputra dan Vanessa saling bertukar pandang. Keduanya bisa melihat keterkejutan dan kebingungan di mata masing-masing. Semua yang terjadi malam ini benar-benar sudah melampaui pemahaman medis biasa.“Tuan Arka…” Wiraputra akhirnya membuka suara pelan. “Apa menurut Anda penawar itu memang bermasalah?” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Atau mungkin… i
Akari mengeluarkan suara lirih penuh frustasi dan kembali meronta lebih keras.Arka membuka tutup botol lalu mendekatkannya ke hidung. Aroma pahit bercampur dingin langsung tercium samar, berbeda jauh dari aroma manis memabukkan milik Inti Racun Hasrat Merah. Baunya memang lebih mirip obat penawar.Namun ia tetap tidak lengah. Pandangan matanya sekilas memeriksa isi botol. Di dalamnya terdapat sekitar belasan pil kecil berwarna cokelat tua sebesar biji kedelai.Arka menuangkan dua butir ke telapak tangannya sebelum menutup kembali botol tersebut. “Buka mulutmu.”Kali ini Akari langsung menurut tanpa ragu sedikit pun. Ia bahkan nyaris merebut pil itu dengan rakus, seolah tubuhnya sudah tidak sanggup menunggu lebih lama lagi. Dua pil langsung ditelan.Beberapa detik kemudian, tubuh wanita itu mendadak menegang. Lalu mulai bergetar hebat. Namun kali ini bukan getaran penuh hasrat seperti sebelumnya, melainkan kejang keras seolah ada dua kekuatan yang sedang saling bertabrakan di dalam tu
“Panas…” Suaranya terdengar samar dan serak. “Tubuhku…”Vanessa langsung menyipitkan mata melihat perubahan drastis itu. Sementara Bramanta tanpa sadar mengernyit karena tekanan suasana di ruangan mulai terasa semakin aneh dan tidak nyaman.Efek Inti Racun Hasrat Merah jelas jauh lebih mengerikan dibanding yang mereka bayangkan sebelumnya.Sorot mata Akari perlahan kehilangan fokus. Namun di tengah kabut hasrat yang mulai melahap kesadarannya, pandangannya perlahan berhenti pada Arka. Pria yang berdiri paling dekat dengannya. Aura dingin dan tekanan kuat dari tubuh Arka seperti menjadi satu-satunya titik yang masih mampu ditangkap naluri tubuhnya saat ini.“Aku… aku mohon…” Napas Akari semakin tidak teratur. “Berikan penawarnya…”Tubuhnya bergerak gelisah mencoba mendekat, meski luka-luka di tangan dan kakinya kembali terbuka akibat gerakan berlebihan. Darah mulai merembes keluar dari balik perban. Namun wanita itu seperti sudah tidak lagi merasakan sakit, yang tersisa hanya dorongan
“Racun Erosi,” Arka berbicara pelan sambil mengambil sedikit cairan menggunakan ujung jarinya. “Kalau benda ini dioleskan ke luka…” Ia mengangkat tangannya perlahan, lalu menghentikannya tepat di depan wajah wanita itu. “Rasa sakitnya akan terasa seperti tulangmu dikikis sedikit demi sedikit dari dalam tubuh.”Tubuh Akari langsung menegang.Namun Arka belum berhenti, ia kembali mengambil beberapa botol lain dari atas meja, lalu menyusunnya satu per satu di depan Akari.“Serbuk Penghenti Nadi, Bubuk Halusinasi, dan beberapa racun saraf lainnya.”Nada bicaranya tetap stabil, nyaris terdengar datar seperti sedang menjelaskan daftar obat biasa. Justru ketenangan itu membuat tekanan di ruangan terasa semakin mengerikan.Arka kembali mengarahkan pandangannya ke wajah Akari. “Semua benda ini milikmu sendiri,” sorot matanya dingin dan tajam. “Menurutmu…” ujung jarinya kembali mengangkat cairan biru kehijauan tadi, “Apa yang akan terjadi kalau aku mulai memakai semuanya satu per satu padamu?”
Arka muncul di ambang pintu dengan ekspresi setenang biasanya. Hanya ada sedikit garis lelah samar di wajahnya setelah seluruh kekacauan malam tadi, tetapi itu sama sekali tidak mengurangi tekanan dingin yang masih melekat di tubuhnya.Namun perhatian semua orang langsung tertuju pada sosok wanita yang dibawanya di pundak. Tubuh ramping itu terbungkus selimut tipis, rambut hitamnya terurai berantakan menutupi sebagian wajah pucatnya.“Arka!” Adhyaksa langsung melangkah mendekat. “Kau tidak terluka parah, kan?”Kalimatnya terputus saat matanya turun ke tubuh wanita di pundak Arka. “Dan dia…?”“Hadiah kecil,” jawaban Arka terdengar datar.Ia berjalan ke sisi ranjang kosong lalu meletakkan tubuh Akari dengan gerakan tenang tanpa membuang tenaga berlebihan. “Dia anggota Klan Bulan Hitam, dan statusnya tidak rendah.”Sudut matanya menyipit tipis. “Orang seperti ini pasti tahu banyak hal.”Setelah itu, Arka menoleh ke arah Serena yang masih tertidur di ranjang utama. Napas gadis itu terdeng
Romi tersenyum tipis. “Orang yang menyelamatkan putriku,” jawabnya pelan, “Adalah orangku.”Tatapannya mengeras. “Dan orangku… aku ambil kembali.”Ia mengangkat tangan sedikit. Anak buahnya langsung bergerak, membentuk formasi dengan tegang. Mereka siap bentrok kapan saja. Situasi berada di ujung l
Garuda Hitam dan Taring Baja melangkah masuk tanpa ragu. Aura mereka yang dingin dan menekan langsung bertabrakan dengan atmosfer glamor di sekitarnya, menciptakan kontras yang membuat beberapa petugas keamanan di pintu langsung waspada.
Lampu bedah menyala terang, menyorot luka mengerikan di punggung Arka.Vanessa mengenakan sarung tangan steril, pikirannya sepenuhnya bersih dari gangguan. Instruksinya jelas, cepat, dan presisi saat ia memimpin tim.
Mireya menoleh sekilas, mengangguk singkat. Untuk sesaat, semua konflik di antara mereka menghilang, digantikan satu tujuan yang sama.Namun tepat ketika pintu ambulans hampir tertutup—







