“Apa… yang Ayah inginkan?”Suaranya rendah, serak, dan penuh tekanan. Seolah jika jawaban yang diterima tak sesuai harapan, sesuatu akan meledak di tempat itu.Di sampingnya, Reno langsung merasakan atmosfer berubah. “Kak, tenang,” bisiknya cepat, mencoba meredakan ketegangan.Namun Surya justru tersenyum kecil. Ia mengangkat tangan lalu menepuk kepala Arga ringan, seperti seorang ayah yang menenangkan anaknya.“Kau berani menatap ayahmu seperti itu sekarang?” katanya santai.Arga tidak bergerak, lehernya tetap kaku. “Mereka saudaraku,” katanya pelan, namun tegas. “Saudara hidup dan mati.”Surya terdiam sesaat, lalu tertawa keras. Tawa itu menggema di koridor. “Kau keras kepala, persis kakekmu.” Ia menatap pintu ruang operasi, lalu berkata dengan suara penuh wibawa. “Kalau aku menyerahkan mereka, kakekmu akan mematahkan kakiku.”Nada suaranya berubah dingin dan dominan. “Di Sentara, jika keluarga Prasetya memutuskan melindungi seseorang, siapa yang bisa menghentikan kami? Bahkan kelua
Read more