“Ugh—!”Arka langsung meringis, napasnya tertahan sejenak sebelum keluar dalam helaan kasar. Ia menoleh, menatap Mireya dengan ekspresi campur aduk antara geli, kaget, dan sedikit jengkel yang tidak benar-benar serius.Mireya mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya menggoda, sudut bibirnya terangkat tipis, seolah puas dengan serangan barusan. Namun, kalau diperhatikan lebih dalam, ada kekhawatiran yang terpancar dari matanya.Jari telunjuknya terangkat, lalu—Tok.Ia mengetuk ujung hidung Arka dengan ringan.“Aku peringatkan kamu, Arka,” ucapnya, nada suaranya setengah bercanda, setengah serius. “Jangan ngebut terus kayak orang dikejar deadline hidup. Ada yang namanya ritme. Progres itu harus stabil, bukan meledak di awal terus habis di tengah jalan.”Ia mendekat sedikit, matanya menyipit, nada suaranya turun. “Kalau kamu tumbang duluan, kita ini mau jadi apa? Hidup dengan status janda semua?”Kalimat itu keluar begitu saja, dan cukup untuk membuat Arka benar-benar kehilangan kata-k
Read more