Ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan, tetapi kali ini suasananya jauh lebih berat. Udara seolah ikut mendingin, menekan dada setiap orang yang duduk di sana.Arka menyandarkan tubuhnya pelan ke kursi, lalu melanjutkan dengan nada stabil.“Setiap ‘Bayangan Rawa’ memiliki pola kerja yang berbeda. Cara komunikasi, jalur kontaknya, bahkan informasi yang mereka pegang kemungkinan juga tidak sama.”Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan suara lebih dalam. “Jadi, Tuan Adhyaksa…” ujarnya tenang, “Keluarga Mahesa harus mulai mengubah cara berpikir.”Sorot mata Adhyaksa perlahan berubah serius.“Kalian tidak bisa lagi menganggap semuanya sesederhana mencari perantara, membayar uang, lalu masalah selesai,” nada suara Arka tetap datar, tetapi tekanannya terasa jelas. “Kalau perantaranya sendiri hanyalah bidak di papan permainan, atau bahkan tangan dari pemain sebenarnya, maka setiap langkah yang kalian ambil mungkin memang sudah diarahkan sejak awal.”Kalimat itu membuat wajah A
อ่านเพิ่มเติม