Namun Arka tetap tenang. Gerakannya memang tidak seaneh Maganta, tetapi jauh lebih sederhana, bersih, dan efisien. Setiap serangan yang dilepaskannya selalu mengarah langsung ke titik vital tanpa gerakan berlebihan, memaksimalkan tenaga, kecepatan, dan akurasi dalam waktu bersamaan.Keduanya terus bertukar serangan dengan kecepatan tinggi di ruang sempit bawah menara air.DUAK! CLANG! BANG!Benturan tubuh dan dentingan logam terus bergema di dinding beton tua, menciptakan suara kasar yang saling bersahutan tanpa henti. Semakin lama bertarung, dada Maganta mulai terasa semakin berat.Kecepatan dan pola serangannya yang sulit ditebak ternyata tidak mampu menembus pertahanan Arka. Reaksi pria itu terlalu cepat, sementara serangan baliknya selalu datang dengan timing yang nyaris sempurna. Ketahanan, kesadaran, dam insting bertarung. Semua itu berada di level yang benar-benar mengerikan.Maganta langsung menyadari bahwa Arka adalah salah satu lawan paling berbahaya yang pernah ia hadapi se
Read more