Bima terduduk di atas peraduan rumah sakit. Manik matanya menatap hampa menerobos beningnya kaca jendela, hanyut dalam pergulatan batin yang tak kunjung mereda.Di sampingnya, Andien sibuk mengupas buah apel dengan gerakan santai, tak henti-hentinya mengoceh menceritakan dinamika pekerjaannya demi mencairkan suasana.Namun, mendapati Bima yang tetap membisu kaku, Andien perlahan menghentikan kegiatannya. Ia mengulurkan tangan, mengusap lembut bahu pria itu."Bima..." Panggil Andien pelan.Bima tersentak, refleks menoleh menatap paras Andien."Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Andien heran.Bima menggelengkan kepalanya pelan, berusaha mengusir bayang-bayang kelam yang merayapi benaknya."Aku ingin menjenguk Saifanny, Andien," ucap Bima singkat, menyuarakan desakan rasa bersalah yang terus menghimpit dadanya.Andien mengangguk paham. Tanpa membuang waktu, ia mengambil kursi roda di sudut ruangan, lalu dengan telaten membantu Bima memindahkan tubuhnya.Namun, baru saja jemari Andien h
Leer más