Saifanny melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang cukup lengang. Di kursi penumpang depan, Syahdan duduk membisu seraya mengerucutkan bibirnya tebal—sebuah gestur nonverbal yang mengomunikasikan kekesalan mendalam.Saifanny menghembuskan napas lelah, berusaha menata emosinya yang mulai terkikis."Syahie... Harusnya kamu tidak bicara kasar begitu pada Mabelle," buka Saifanny dengan intonasi selembut mungkin.Syahdan bergeming, memalingkan parasnya rapat-rapat menatap kosong keluar jendela mobil."Mabelle itu tidak punya ibu, Syahie. Itu sebabnya tadi dia memanggil Mama dengan sebutan begitu," lanjut Saifanny, berupaya menyuntikkan empati ke dalam benak putranya.Namun, Syahdan tetap memilih membisu. Di balik keputusasaannya, bocah sembilan tahun itu tak memedulikan sedikit pun latar belakang Mabelle.Bagi logika polosnya yang terluka, fakta bahwasanya sang ibu justru menegurnya di hadapan orang lain adalah bukti nyata bahwa Saifanny tidak lagi berdiri
Leer más