Adrian melangkah kembali ke arah kendaraannya. Kepalanya menggeleng keras, tak habis pikir dengan obsesi aneh nan mengerikan yang dipelihara Marcus terhadap Saifanny. Ia menghela napas panjang, berusaha keras mengendalikan ekspresi wajahnya agar tidak memancarkan kecemasan yang berlebihan. Ketika jemarinya hendak menarik knop pintu mobil, tiba-tiba... Tringgg! Tringgg! Ponselnya berbunyi nyaring. Terdapat sebuah panggilan masuk yang memecah hening di sekitar bahu jalan. Adrian menatap layar kaca ponselnya, mendapati nama Sania tertera di sana. Klik! "Halo, Bu... Saya dan Syahdan sekarang sedang di jalan menuju rumah Fanny," ucap Adrian langsung, begitu memencet tombol hijau di layar. Sania berdeham singkat di seberang sana, suaranya terdengar berat dan ragu. "Hmm, lebih baik kalian jangan dulu ke sini. Fanny sedang tidak baik-baik saja. Ibu takut nanti dia memarahi kamu begitu sampai di sini," tutur Sania dengan alis berkerut khawatir. Adrian mengangguk pelan di balik
Leer más