"Lihatlah! Betapa serasinya kau dengan Alaric, Nak," ucap Elbert tiba-tiba, nadanya senang–memperhatikan Aeza dan Alaric yang duduk bersebelahan. Aeza tersentak, mengalihkan tatapan lalu menoleh cepat ke arah papanya–melepas pandangan dari cincin di jari manis Alaric. "Papa, stop!" pekik Aeza pelan, setelah itu melirik tak enak ke arah Lucas, "tolong hargai Mas Lucas, Paa," tambahnya. Elbert menoleh ke arah Lucas. "Cih," dia berdecih remeh, "berapa harga diri si lumpuh ini, Heh? 200 juta? Ah, sepertinya itu masih terlalu mahal mengingat dia sangat tidak berguna," ejeknya. Mendengar penghinaan itu, Lucas diam-diam mengepalkan tangan. Namun, dia tetap mencoba senyum, tak berani menunjukkan ekspresi marah. Elbert sangat membencinya, salah sedikit saja, Elbert bisa menyingkirkannya. Lagipula ada sang tuan muda Theodora di sini, Lucas harus menjaga citra dan image. "Papa!" Aeza menatap tak percaya pada Elbert. Padahal papanya adalah sosok yang mengajarinya supaya tetap rendah hati d
Baca selengkapnya