"Bercinta, Darling." Suara Seven terasa lebih menggoda, sekaligus membuat Aeza jauh lebih panik. "A-apa? Ber-bercinta?" tanya Aeza ragu, menatap waspada pada Seven, "ta-tapi … jangan, Mas Seven," bisik Aeza, ketakutannya kian nyata, dan kegugupannya mulai melanda. "Kenapa jangan, Humm?" Seven menaikkan sebelah alis. "Aku takut sakit," jawab Aeza malu bercampur ragu-ragu. Dia mengerjap beberapa kali, menggembungkan pipi lalu melirik ke sana kemari. Aeza sangat tidak nyaman ada di posisi ini, punggungnya sudah panas dingin, dan tubuhnya mulai terasa kaku. "Tenang saja, Darling. Ini tidak akan sakit," jawab Seven dengan suara yang terasa hangat, menenangkan Aeza. Namun, meskipun begitu, Aeza tak cukup yakin, mengingat …- "Ta-tapi … umm … pasti tetap sakit," cicit Aeza dengan tampang muka canggung. "Tidak akan." Seven mulai melancarkan aksinya, tangannya menelusup ke belakang tubuh Aeza–menurunkan resleting dress yang Aeza kenakan. "Sakit," pekik Aeza, kembali panik karen
Baca selengkapnya