Kembali ke apartemen, di kamar Salsa. Gadis itu mengenakan pakaian longgar berwarna merah muda yang dikenakannya. Begitu cocok di tubuhnya, perutnya yang membuncit tidak lagi terlihat. Salsa buru-buru mengambil handphonenya, ingin menunjukkannya Akas. Namun kemudian ia teringat, iya tidak boleh menghubungi Akas pada saat krisis ini. Musuh-musuh atas pasti berhidung tajam, jika mereka mengetahui lokasinya semuanya akan sia-sia. Mereka mungkin belum menyadari bahwa Salsa sudah tak ada lagi di dalam negeri. Salsa mengerucutkan bibirnya dengan kecewa. Ia ingin memeluk pria itu, bermanja padanya, dan mengeluh padanya. Perutnya yang membuncit ini semua salahnya, berapa umurnya tapi dia sudah harus menjadi seorang ibu. Tanpa ada orang yang menemani, sungguh rasanya tidak nyaman. Salsa ingin menangis, emosinya benar benar meluap luap seperti gunung api yang hampir meletus. Mungkin ini juga efek kehamilan. Baru juga beberapa hari ia meninggalkan Akas, tapi rasa rindu ini sudah meluap hingg
Read more