Lelaki yang menyayanginya telah mati. Namun, Sabella tidak sempat melihat pria itu untuk terakhir kalinya. Yang bisa ia temui hanyalah batu nisan dan gundukan tanah di hadapan.Kini, ia tidak punya siapa-siapa.“Ayo, Mbak … saatnya kembali ke asrama.”Tanpa repot terdengar bersimpati, sopir itu menegur Sabella, gadis berkerudung yang masih saja mematung di hadapan pusara kakeknya. Ia baru mendapatkan kabar duka setelah sang kakek telah dikebumikan.Sakit sekali. Memang dirinya selama ini tinggal di asrama. Namun, apakah tidak ada seorang pun yang tergerak untuk mengabarinya? Pihak rumah sakit, mungkin? Atau tetangga? Kakeknya menyimpan nomor Sabella sebagai nomor darurat. Harusnya pihak yang bersama sang kakek untuk terakhir kalinya tahu.Lantas siapa yang mengurus pemakaman? Mendiang Kakek dulu bilang kalau Sabella adalah satu-satunya anggota keluarga yang tertinggal sejak orang tua Sabella meninggal.“Mbak? Hari sudah sore–”Sabella menghapus air matanya dan berbalik. “Iya, Pak,” j
Terakhir Diperbarui : 2026-02-18 Baca selengkapnya