MasukMereka singgah singkat di restoran pusat kota untuk makan siang. Hanya mengambil waktu cepat sebelum meneruskan perjalanan. Arus kendaraan di jalanan menuju gedung cukup padat. Bau-bau aliran pengunjung konser besar grup musik pop asal Irlandia itu terasa kuat.
Sebab datang lambat, gegap gempita konser dari dalam stadion terdengar jelas ke arah pintu masuk. Sabella berjalan di tengah diapit dua lelaki di depan dan belakang dengan Ben yang memimpin. Namun, lelaki gagah yang akan menyerahkan tiket virtualnya itu gagal sebab seseorang memanggil namanya. Perempuan dengan dress pendek yang terlihat seksi dan cantik sedang menghampiri dan menarik lengan Ben menepi. Ryker pun segera ikut keluar baris antrian dan diikuti Sabella. “Ben, nomorku kamu blokir? Aku selalu gagal menghubungi kamu. Kenapa? Kamu gak ganti nomor kan?” tanya perempuan itu dengan menangis. Ben baru saja menolak tegas pelukannya. “Sudah kubilang, hubungan kita bukan apa-apa. Hanya sementara dan sekarang berakhir.” Ben menjawab dingin. “Tapi, Ben, papaku sudah ngasih tendernya ke kamu, kan?!” Perempuan itu sedikit keras berkata. “Aku tidak pernah menjanjikan apa-apa, kan?” Ben menyahut tenang tetapi sungguh-sungguh. Sabella menyimak dengan rasa heran. Menilai jika Ben kurang memiliki iba pada wanita yang menyukainya. Apa Ben lelaki playboy? “Ayolah kita duluan saja,” tegur Ryker. Merasa risih melihat drama di depannya. Apalagi dengan ekspresi Sabella yang bingung. Dasar si Ben, lelaki paling setia - di setiap kota ada wanita. Benarkah lelaki itu akan jera setelah menikah? Ryker melirik Sabella, gadis lurus yang taat. Apakah Ben tidak akan menyakitinya? “Kita tunggu dia di sini saja!” Ryker berseru. Mereka telah melewati antrian tiket dan mengajak Sabella duduk di kursi dekat pintu masuk. Tidak ingin Ben jadi kebingungan mencarinya. “Apa mereka pernah bersama, Mas?!” tanya Sabella sambil melirik arah pintu. Suaranya juga keras, demi bersaing dengan musik yang bergemuruh dan kuat. “Sorry, Sabella, aku kurang tahu.” Ryker menjawab acuh tak acuh tanpa menoleh. Sabella terdiam. Mengamati lelaki yang duduk tegak di sebelah. Pandangannya jauh di atas panggung. Empat personil Westlife yang sedang tampil menawan seperti sangat menarik di matanya. Mungkin style musiknya sejalan dengan selera Ryker yang terlanjur mengaku tidak suka sebab dirinya sudah tua. Sabella tersenyum mengingat ucapan lelaki dingin itu. Dia menjilat ludah sendiri atau hanya membuang canggung? “Apa aku sangat lama? Sorry …!” Sabella dan Ryker sama-sama menoleh. Ben datang dengan ekspresi tampak suntuk. Dia duduk menghentak di kursi ujung yang kosong. “Dia mana?!” tanya Ryker dingin dengan tatapan tajam pada Ben. Seperti ungkapan rasa tidak sukanya. “Kusuruh jauh-jauh dariku!” jawab Ben semakin suntuk. Memandang Sabella dengan tatapan gusar. Gadis itu abai padanya podengan menatap jauh ke panggung. Ryker tidak lagi bertanya. Suasana hingar bingar. Andai sedang sendiri bersama Ben, ingin sekali berbicara panjang lebar. Mengungkit janji lelaki itu untuk benar-benar tidak lagi bermain wanita jika ingin serius menikahi Sabella. “Ke mana, Ben?!” tanya Ryker. Ben berdiri dan akan pergi. “Ambil video. Mamaku nitip banyak-banyak. Ck!” Ben menjawab dan bersungut-sungut. Sabella buru-buru berdiri dan bersiap mengikuti. Melihat gelagat Ryker yang juga akan pergi. “Kalian ikut?!” tanya Ben dengan menoleh. “Aku akan mencari posisi yang benar sesuai tiket!” Ryker menyahut keras. Ben pun berjalan lagi, merasa kesal sendiri sebab Sabella meliriknya pun tidak mau. Mereka bertiga semakin maju. Ben paling depan, Sabella beberapa meter di belakang, dan Ryker membuntuti. Tidak susah mencari di kumpulan mana harus tinggal. Beberapa panitia konser yang menyebar sangat siaga dalam melayani para tamu. Mereka diarahkan posisinya berdasarkan level tiket. “Ben! jangan sangat ke depan!” Ryker berseru sebab Ben terus merangsek maju. Seketika Ben menoleh. “Kalo video yang kubuat hanya penuh kepala orang, mamaku akan nyuruh terus ambil ulang!” serunya dan kembali fokus ke depan. Mungkin sudah hoki, tidak disangka, dua dari empat personil band turun ke podium VIP di depan mereka. Ben semakin bersemangat mengangkat ponselnya demi mendapat video terbaik untuk sang mama. Sabella tersenyum merasa ini cukup lucu. Mereka bukan lagi remaja atau lelaki muda, tetapi sudah dewasa. Namun, mengakui jika band ini demikian legenda dengan usungan musiknya yang asyik dan bisa dinikmati oleh segala usia di sepanjang zaman. Hak setiap manusia memang untuk mendapatkan hiburan. Saat sedikit menoleh ke belakang, terlihat Ryker pun demikian. Sedang sibuk mengambil video dari ponselnya tanpa maju ke depan. Apa isi rekaman hanya kepala orang-orang? Sabella kembali tersenyum. Ben memang lelaki penuh semangat. Di mana dia? Tidak terlihat lagi. Telah tenggelam di antara histeris banyak orang. “Jangan terlalu banyak gerak, Sabella!” Ryker menegur dari belakang. “Eh, iya, Mas. Gak terasa kebawa arus!” Sabella menyahut dengan meringis. Orang di kanan kiri yang berdiri terlalu heboh menikmati musik konser. Dirinya terpaksa ikut berdiri. Saat dua personel bintang melintas dekat, tiba-tiba hentakan gelombang tenaga orang menghantam. Sabella tidak sempat memasang kuda-kuda pertahanan. Punggung dan bahunya terdorong kuat dan hampir terseret arus. Jantung yang berdetak kencang sebab kaget, bertukar dengan degupan rasa segan. Lengan kekar yang melingkar kuat di pinggang dan perutnya untuk menahan kakinya tetap di tempat, ternyata adalah Ryker yang telah berdiri rapat di belakangnya.“Sajian penting pencuci mulut belum ada …,” ucap Ben berkomentar setelah melihat-lihat di seluruh permukaan meja. Ryker acuh tak acuh tanpa menyahut dan kini berdiri. Meninggalkan kursi dan mendekati lemari es. Lalu mengambil posisi jongkok untuk mencari sesuatu di dalamnya. “Kenapa Mas Ryker terlihat repot? Kenapa tadi tidak memintaku … maksudku, aku bisa masak. Aku pikir, kalian tidak doyan makan rumahan.” Sabella meluahkan rasa heran dan merasa jadi segan. Sebab kemarin, mereka berdua menolak tawaran untuk makan siang di asrama. Tetapi membawanya makan siang di restoran. Alhasil makanan banyak di asrama hanya Pak Edo, sang kuasa hukum Kakek itu saja yang mengapresiasi. “Kita sebenarnya justru tidak suka makan di luaran, Bel. Kecuali tidak bisa pulang ke rumah dan sedang buru-buru.” Ben menjawab sambil mengipasi spaghetti panas di piringnya. “Iyakah? Tapi … Mas Ben bilang, orang tua tidak di Indonesia. Lantas, pulangnya ke mana?” tanya Sabella. Meski lelaki itu terindikasi pemai
Keadaan ini membuat Sabella jadi patung. Namun, orang-orang terus heboh dan tidak peduli dengan yang terjadi di sekeliling, apalagi melihatnya yang sedang di posisi sulit. “Maaf, Mas. Terima kasih, ya …,” ucap Sabella jadi serba salah. Coba menggerakkan badan ke samping, berharap lelaki di belakangnya menjauh. “Duduklah saja. Aku akan menelepon, Ben.” Ryker berkata pelan dan bukan keras sebab jarak kepala mereka jadi dekat. Meski ada kursi yang menghalang di antara badan, Sabella merasa risih sekaligus malu. Wajah bersihnya kemerahan terkena sorot lampu. Terasa Ryker menarik tangannya dan menjauh. Suasana berubah jadi canggung dan mereka sama-sama membuang pandang ke panggung. “Hah, dapat banyak! Kalian tidak ingin ambil video?!” seru lelaki bersama sosoknya mendekat. Langsung duduk di sebelah Sabella tepat. Yakin bahwa bangku yang kosong itu miliknya. Ryker menyimpan ponselnya dan tidak jadi menelepon. Ben datang sendiri dan kemungkinan akan lebih panjang umur. “Sud
Mereka singgah singkat di restoran pusat kota untuk makan siang. Hanya mengambil waktu cepat sebelum meneruskan perjalanan. Arus kendaraan di jalanan menuju gedung cukup padat. Bau-bau aliran pengunjung konser besar grup musik pop asal Irlandia itu terasa kuat. Sebab datang lambat, gegap gempita konser dari dalam stadion terdengar jelas ke arah pintu masuk. Sabella berjalan di tengah diapit dua lelaki di depan dan belakang dengan Ben yang memimpin. Namun, lelaki gagah yang akan menyerahkan tiket virtualnya itu gagal sebab seseorang memanggil namanya. Perempuan dengan dress pendek yang terlihat seksi dan cantik sedang menghampiri dan menarik lengan Ben menepi. Ryker pun segera ikut keluar baris antrian dan diikuti Sabella. “Ben, nomorku kamu blokir? Aku selalu gagal menghubungi kamu. Kenapa? Kamu gak ganti nomor kan?” tanya perempuan itu dengan menangis. Ben baru saja menolak tegas pelukannya. “Sudah kubilang, hubungan kita bukan apa-apa. Hanya sementara dan sekarang berakhir.”
“Gordennya otomatis kerja, Mbak. Akan membuka sendiri menjelang siang. Kolam pun biasanya pukul sepuluh pagi hingga pukul satu siang sudah tidak ada aktivitas. Jadi, harap maklum lah, Mbak.” Wanita itu menjelaskan saat Sabella memrotes tegas akan mudahnya akses laki-laki. “Oh, baiklah. Saya mengerti!” sahut Sabella setelah membisu dan akhirnya memahami. Sadar jika ini fasilitas umum yang asalnya bukan hanya untuk wanita. Hanya kali ini pertandingannya khusus dan kebetulan memilih di sini. Sempat melirik lagi ke sebelah. Mereka berdua sudah tidak ada di balik kaca. Sabella yakin tidak salah lihat bahwa satu dari dua lelaki tadi adalah Ryker! “Terima bunganya, Mbak. Aman kok!” CS wanita kembali mengulurkan seikat bunga itu. “Dari siapa, ya, Mbak?” Sabella menerima sambil bingung. Bau mawarnya harum dan terasa menyegarkan. “Dari anak kecil yang katanya Mbak tolong pas di toilet. Dia kesini untuk mendukung guru sekolahnya. Tetapi dia bilang, juga ikut senang jika Anda yang menang.” Wa
Lomba renang yang diikuti hanya khusus perempuan. Ben meninggalkannya di pintu masuk National Swimming Club dan kembali ke apartemen. Dia mengantarkan sendirian. Ryker tiba-tiba mengambil part time sebagai joki pendamping pada sebuah klub kuda di kota. Mungkin semasa Kakek masih ada, lelaki itu sudah sering mendatangi Surabaya.Entah sengaja atau tidak, dan benar atau salah, Sabella tahu jika pusat pacu kuda di kota adalah di sebelah gedung renang. Bahkan dengan tembok berhimpitan. Namun, dirinya enggan bertanya untuk memastikan di pacuan mana Ryker pergi. Dahi Sabella berkernyit, kenapa Kakek tidak pernah saling mengenalkan mereka semua? Sabella memasuki area kolam dengan penuh tanya. Sebelum pergi ke ruang ganti, dirinya pergi ke toilet untuk buang air kecil. Meski lomba ini semi tertutup dan khusus wanita, pengunjung tetap ramai. Bahkan berjalan pun harus fokus. Semua perempuan berlalu lalang tanpa putus. Ups! Sedetik sempat ragu, antrian di empat pintu toilet cukup panjang. Na
“Hanya semalam, sebelum ke Semarang!” Ryker berseru sebelum pergi menuju lobi. Sabella menelan ludah susah payah. Dari kecil terbiasa tinggal di asrama perempuan, tiba-tiba ikut para lelaki dan tinggal bersama? Ini dialaminya sungguhan atau hanya mimpi kesiangan? “Jangan ragu, Sabella. Kamu sangat aman. Kami bukan lelaki garangan. Lagipula, sebelum menikah, kita tercatat sebagai saudara. Hanya semalam, besok pagi kita sudah terbang ke Semarang,” ucap Ben. Seperti tahu apa yang dipikir Sabella. Dia menjelaskan sambil berjalan lambat. Mereka berhenti di depan lift. Tidak lama Ryker datang dengan satu kunci di genggamnya. Kedatangan lelaki tegap itu bersamaan dengan pintu besi yang membelah. Sabella berusaha tenang. Mengikuti mereka masuk ke dalam kotak lift. Coba lebih yakin dan percaya pada lelaki-lelaki yang disebut Kakek dalam wasiatnya. Berharap asa di dada yang selama ini ingin memiliki seseorang, bahkan beberapa orang sebagai keluarga, sebentar lagi terwujud. Tidak masalah mes