Masuk“Gordennya otomatis kerja, Mbak. Akan membuka sendiri menjelang siang. Kolam pun biasanya pukul sepuluh pagi hingga pukul satu siang sudah tidak ada aktivitas. Jadi, harap maklum lah, Mbak.” Wanita itu menjelaskan saat Sabella memrotes tegas akan mudahnya akses laki-laki.
“Oh, baiklah. Saya mengerti!” sahut Sabella setelah membisu dan akhirnya memahami. Sadar jika ini fasilitas umum yang asalnya bukan hanya untuk wanita. Hanya kali ini pertandingannya khusus dan kebetulan memilih di sini. Sempat melirik lagi ke sebelah. Mereka berdua sudah tidak ada di balik kaca. Sabella yakin tidak salah lihat bahwa satu dari dua lelaki tadi adalah Ryker! “Terima bunganya, Mbak. Aman kok!” CS wanita kembali mengulurkan seikat bunga itu. “Dari siapa, ya, Mbak?” Sabella menerima sambil bingung. Bau mawarnya harum dan terasa menyegarkan. “Dari anak kecil yang katanya Mbak tolong pas di toilet. Dia kesini untuk mendukung guru sekolahnya. Tetapi dia bilang, juga ikut senang jika Anda yang menang.” Wanita CS menjelaskan dengan nada lembut. “Oh, namanya siapa, Mbak?!” tanya Sabella terkejut. Dipikirnya dari Ryker, ternyata bukan. Seikat mawar ini justru dari bocah kecil, ini sungguh surprise. “Nah, itu. Mereka buru-buru. Katanya sedang ditunggu papanya di gedung sebelah. Saya pun jadi lupa nanyain, Mbak,” jawab wanita itu dengan nada sesalnya. Sabella mengerti dan menyusulkan ucapan terima kasih dengan sedikit keras sebab wanita itu tiba-tiba berdiri dan pamit pergi. Mungkin ingat jika pekerjaan utamanya di gedung belum selesai lagi. Penghargaan, sepatah dua patah tanggapan, dan jadwal pertandingan berikutnya telah didapat. Sabella keluar gedung dengan perasaan campur aduk. Antara bahagia dan merana. Jika dulu yang bersukaria pada prestasinya adalah Kakek dan pihak asrama, sekarang tidak ada. Apa perginya dari asrama justru kesalahan? “Sabella!” seruan lelaki padanya. Ternyata adalah Beniqno. Kedatangannya membuat kerunsingan Sabella seketika terusir. Lagi-lagi mampu membuat senyum di bibir gadis itu merekah. Ben datang di saat yang tepat dan segera memberi ucapan selamat. Namun, menyembul lelaki lain di belakangnya setelah sempat terhalang orang-orang yang berlalu lalang. Hanya berdiri di tempat dan memandang datar. Setelah keramaian berkurang, dia pun mendekat. Tetapi tidak mengucapkan selamat. “Ryk, bagaimana jika kita ke pantai untuk merayakan kemenangan Sabella?” tanya Ben dengan antusias. Wajah putihnya kemerahan oleh cuaca panas Surabaya. Ryker berkerut dahi dan berdecak. “Tidak di pantai saja sangat panas.” Jawabannya abu-abu. Namun, Ben sangat paham maksudnya. “Ya sudah, kita nonton konsernya Westlife saja!” serunya lebih semangat. “Kalian pergilah. Aku sudah tua.” Ryker menyahut dengan tersenyum masam. “Cih! Apa pura-pura tidak tahu, yang konser saja jauh lebih tua darimu! Mereka semua sangat keren. Kau tidak dekat dengan ibumu ya, tidak tahu grub band favorit ibumu di masa muda?” Ben merespon sengit. Kali ini tatapannya pada Ryker tampak kesal. “Aku akan mengajak Samuel!” ucap Ben dan segera mengambil ponsel dari saku kemeja. “Dia tidak bisa. Sibuk memeriksa banyak kuda di pacuan.” Ryker menyela tegas. Sepintas memandang Sabella yang terlihat tegang. “Cih! Dia itu dokter manusia apa dokter hewan?! Kurang kerjaan betul!” Ben mengumpat dengan nada sengit. Namun, mendadak menoleh Sabella dengan tatapan redup. “Oke, Sabella … aku akan pergi denganmu saja.” Ben mencampak ponselnya kasar ke saku kembali. “Tapi, Mas. Masak berduaan …,” sahut Sabella. Jawabannya pun abu-abu. “Lah, kan lihat konser. Banyak orang lah!” sahut Ben dengan nada sedikit tinggi tanpa disadari. “Tapi …,” ucap Sabella merasa serba salah. Ekspresinya ragu-ragu. Ben jadi kesal, tanganya mengacak rambut sendiri sambil menatap Ryker dengan tajam. “Egois, Lu!’” cercanya. “Baiklah, Ben. Aku ikut kalian. Sabella, habis di sini … ada tanding lagi?” Ryker pun tidak sampai hati menolak lagi. Sepertinya Sabella pun ingin nonton. Ya, hitung-hitung untuk support kemenangannya. “Iya, nanti di Yogyakarta. Skala Indonesia.” Sabella menyahut dengan wajah berbinar. Ben merasa lega melihatnya. Merasa kesal sekali dengan Ryker. Mentang-mentang tidak niat menikah. Sama sekali tanpa efforts menyenangkan hati Sabella. Bukankah dia harus amanah? Ayahnya adalah orang yang ditunjuk Kakek sebagai wali pengganti bagi Sabella. Namun, sebab sibuk dan kurang sehat, Rykerlah yang diminta mewakili. Dasar pria patah hati, alhasil dia jadi mati rasa! Ben berjalan memimpin sambil sibuk merutuki Ryker di sepanjang menuju latar parkir. Telah ada mobil sewa menunggu sekaligus seorang supir yang juga disewa. Tidak ingin mendapat resiko di perjalanan, menyadari dirinya buta dengan rute di Kota Surabaya. 🍒“Sajian penting pencuci mulut belum ada …,” ucap Ben berkomentar setelah melihat-lihat di seluruh permukaan meja. Ryker acuh tak acuh tanpa menyahut dan kini berdiri. Meninggalkan kursi dan mendekati lemari es. Lalu mengambil posisi jongkok untuk mencari sesuatu di dalamnya. “Kenapa Mas Ryker terlihat repot? Kenapa tadi tidak memintaku … maksudku, aku bisa masak. Aku pikir, kalian tidak doyan makan rumahan.” Sabella meluahkan rasa heran dan merasa jadi segan. Sebab kemarin, mereka berdua menolak tawaran untuk makan siang di asrama. Tetapi membawanya makan siang di restoran. Alhasil makanan banyak di asrama hanya Pak Edo, sang kuasa hukum Kakek itu saja yang mengapresiasi. “Kita sebenarnya justru tidak suka makan di luaran, Bel. Kecuali tidak bisa pulang ke rumah dan sedang buru-buru.” Ben menjawab sambil mengipasi spaghetti panas di piringnya. “Iyakah? Tapi … Mas Ben bilang, orang tua tidak di Indonesia. Lantas, pulangnya ke mana?” tanya Sabella. Meski lelaki itu terindikasi pemai
Keadaan ini membuat Sabella jadi patung. Namun, orang-orang terus heboh dan tidak peduli dengan yang terjadi di sekeliling, apalagi melihatnya yang sedang di posisi sulit. “Maaf, Mas. Terima kasih, ya …,” ucap Sabella jadi serba salah. Coba menggerakkan badan ke samping, berharap lelaki di belakangnya menjauh. “Duduklah saja. Aku akan menelepon, Ben.” Ryker berkata pelan dan bukan keras sebab jarak kepala mereka jadi dekat. Meski ada kursi yang menghalang di antara badan, Sabella merasa risih sekaligus malu. Wajah bersihnya kemerahan terkena sorot lampu. Terasa Ryker menarik tangannya dan menjauh. Suasana berubah jadi canggung dan mereka sama-sama membuang pandang ke panggung. “Hah, dapat banyak! Kalian tidak ingin ambil video?!” seru lelaki bersama sosoknya mendekat. Langsung duduk di sebelah Sabella tepat. Yakin bahwa bangku yang kosong itu miliknya. Ryker menyimpan ponselnya dan tidak jadi menelepon. Ben datang sendiri dan kemungkinan akan lebih panjang umur. “Sud
Mereka singgah singkat di restoran pusat kota untuk makan siang. Hanya mengambil waktu cepat sebelum meneruskan perjalanan. Arus kendaraan di jalanan menuju gedung cukup padat. Bau-bau aliran pengunjung konser besar grup musik pop asal Irlandia itu terasa kuat. Sebab datang lambat, gegap gempita konser dari dalam stadion terdengar jelas ke arah pintu masuk. Sabella berjalan di tengah diapit dua lelaki di depan dan belakang dengan Ben yang memimpin. Namun, lelaki gagah yang akan menyerahkan tiket virtualnya itu gagal sebab seseorang memanggil namanya. Perempuan dengan dress pendek yang terlihat seksi dan cantik sedang menghampiri dan menarik lengan Ben menepi. Ryker pun segera ikut keluar baris antrian dan diikuti Sabella. “Ben, nomorku kamu blokir? Aku selalu gagal menghubungi kamu. Kenapa? Kamu gak ganti nomor kan?” tanya perempuan itu dengan menangis. Ben baru saja menolak tegas pelukannya. “Sudah kubilang, hubungan kita bukan apa-apa. Hanya sementara dan sekarang berakhir.”
“Gordennya otomatis kerja, Mbak. Akan membuka sendiri menjelang siang. Kolam pun biasanya pukul sepuluh pagi hingga pukul satu siang sudah tidak ada aktivitas. Jadi, harap maklum lah, Mbak.” Wanita itu menjelaskan saat Sabella memrotes tegas akan mudahnya akses laki-laki. “Oh, baiklah. Saya mengerti!” sahut Sabella setelah membisu dan akhirnya memahami. Sadar jika ini fasilitas umum yang asalnya bukan hanya untuk wanita. Hanya kali ini pertandingannya khusus dan kebetulan memilih di sini. Sempat melirik lagi ke sebelah. Mereka berdua sudah tidak ada di balik kaca. Sabella yakin tidak salah lihat bahwa satu dari dua lelaki tadi adalah Ryker! “Terima bunganya, Mbak. Aman kok!” CS wanita kembali mengulurkan seikat bunga itu. “Dari siapa, ya, Mbak?” Sabella menerima sambil bingung. Bau mawarnya harum dan terasa menyegarkan. “Dari anak kecil yang katanya Mbak tolong pas di toilet. Dia kesini untuk mendukung guru sekolahnya. Tetapi dia bilang, juga ikut senang jika Anda yang menang.” Wa
Lomba renang yang diikuti hanya khusus perempuan. Ben meninggalkannya di pintu masuk National Swimming Club dan kembali ke apartemen. Dia mengantarkan sendirian. Ryker tiba-tiba mengambil part time sebagai joki pendamping pada sebuah klub kuda di kota. Mungkin semasa Kakek masih ada, lelaki itu sudah sering mendatangi Surabaya.Entah sengaja atau tidak, dan benar atau salah, Sabella tahu jika pusat pacu kuda di kota adalah di sebelah gedung renang. Bahkan dengan tembok berhimpitan. Namun, dirinya enggan bertanya untuk memastikan di pacuan mana Ryker pergi. Dahi Sabella berkernyit, kenapa Kakek tidak pernah saling mengenalkan mereka semua? Sabella memasuki area kolam dengan penuh tanya. Sebelum pergi ke ruang ganti, dirinya pergi ke toilet untuk buang air kecil. Meski lomba ini semi tertutup dan khusus wanita, pengunjung tetap ramai. Bahkan berjalan pun harus fokus. Semua perempuan berlalu lalang tanpa putus. Ups! Sedetik sempat ragu, antrian di empat pintu toilet cukup panjang. Na
“Hanya semalam, sebelum ke Semarang!” Ryker berseru sebelum pergi menuju lobi. Sabella menelan ludah susah payah. Dari kecil terbiasa tinggal di asrama perempuan, tiba-tiba ikut para lelaki dan tinggal bersama? Ini dialaminya sungguhan atau hanya mimpi kesiangan? “Jangan ragu, Sabella. Kamu sangat aman. Kami bukan lelaki garangan. Lagipula, sebelum menikah, kita tercatat sebagai saudara. Hanya semalam, besok pagi kita sudah terbang ke Semarang,” ucap Ben. Seperti tahu apa yang dipikir Sabella. Dia menjelaskan sambil berjalan lambat. Mereka berhenti di depan lift. Tidak lama Ryker datang dengan satu kunci di genggamnya. Kedatangan lelaki tegap itu bersamaan dengan pintu besi yang membelah. Sabella berusaha tenang. Mengikuti mereka masuk ke dalam kotak lift. Coba lebih yakin dan percaya pada lelaki-lelaki yang disebut Kakek dalam wasiatnya. Berharap asa di dada yang selama ini ingin memiliki seseorang, bahkan beberapa orang sebagai keluarga, sebentar lagi terwujud. Tidak masalah mes







