Share

5. Seikat Mawar

Penulis: kamiya san
last update Tanggal publikasi: 2026-02-18 11:56:42

“Gordennya otomatis kerja, Mbak. Akan membuka sendiri menjelang siang. Kolam pun biasanya pukul sepuluh pagi hingga pukul satu siang sudah tidak ada aktivitas. Jadi, harap maklum lah, Mbak.” Wanita itu menjelaskan saat Sabella memrotes tegas akan mudahnya akses laki-laki.

“Oh, baiklah. Saya mengerti!” sahut Sabella setelah membisu dan akhirnya memahami. Sadar jika ini fasilitas umum yang asalnya bukan hanya untuk wanita. Hanya kali ini pertandingannya khusus dan kebetulan memilih di sini. Sempat melirik lagi ke sebelah. Mereka berdua sudah tidak ada di balik kaca. Sabella yakin tidak salah lihat bahwa satu dari dua lelaki tadi adalah Ryker!

“Terima bunganya, Mbak. Aman kok!” CS wanita kembali mengulurkan seikat bunga itu.

“Dari siapa, ya, Mbak?” Sabella menerima sambil bingung. Bau mawarnya harum dan terasa menyegarkan.

“Dari anak kecil yang katanya Mbak tolong pas di toilet. Dia kesini untuk mendukung guru sekolahnya. Tetapi dia bilang, juga ikut senang jika Anda yang menang.” Wanita CS menjelaskan dengan nada lembut.

“Oh, namanya siapa, Mbak?!” tanya Sabella terkejut. Dipikirnya dari Ryker, ternyata bukan. Seikat mawar ini justru dari bocah kecil, ini sungguh surprise.

“Nah, itu. Mereka buru-buru. Katanya sedang ditunggu papanya di gedung sebelah. Saya pun jadi lupa nanyain, Mbak,” jawab wanita itu dengan nada sesalnya.

Sabella mengerti dan menyusulkan ucapan terima kasih dengan sedikit keras sebab wanita itu tiba-tiba berdiri dan pamit pergi. Mungkin ingat jika pekerjaan utamanya di gedung belum selesai lagi.

Penghargaan, sepatah dua patah tanggapan, dan jadwal pertandingan berikutnya telah didapat. Sabella keluar gedung dengan perasaan campur aduk. Antara bahagia dan merana. Jika dulu yang bersukaria pada prestasinya adalah Kakek dan pihak asrama, sekarang tidak ada. Apa perginya dari asrama justru kesalahan?

“Sabella!” seruan lelaki padanya.

Ternyata adalah Beniqno. Kedatangannya membuat kerunsingan Sabella seketika terusir. Lagi-lagi mampu membuat senyum di bibir gadis itu merekah. Ben datang di saat yang tepat dan segera memberi ucapan selamat.

Namun, menyembul lelaki lain di belakangnya setelah sempat terhalang orang-orang yang berlalu lalang. Hanya berdiri di tempat dan memandang datar. Setelah keramaian berkurang, dia pun mendekat. Tetapi tidak mengucapkan selamat.

“Ryk, bagaimana jika kita ke pantai untuk merayakan kemenangan Sabella?” tanya Ben dengan antusias. Wajah putihnya kemerahan oleh cuaca panas Surabaya.

Ryker berkerut dahi dan berdecak. “Tidak di pantai saja sangat panas.” Jawabannya abu-abu.

Namun, Ben sangat paham maksudnya. “Ya sudah, kita nonton konsernya Westlife saja!” serunya lebih semangat.

“Kalian pergilah. Aku sudah tua.” Ryker menyahut dengan tersenyum masam.

“Cih! Apa pura-pura tidak tahu, yang konser saja jauh lebih tua darimu! Mereka semua sangat keren. Kau tidak dekat dengan ibumu ya, tidak tahu grub band favorit ibumu di masa muda?” Ben merespon sengit. Kali ini tatapannya pada Ryker tampak kesal.

“Aku akan mengajak Samuel!” ucap Ben dan segera mengambil ponsel dari saku kemeja.

“Dia tidak bisa. Sibuk memeriksa banyak kuda di pacuan.” Ryker menyela tegas. Sepintas memandang Sabella yang terlihat tegang.

“Cih! Dia itu dokter manusia apa dokter hewan?! Kurang kerjaan betul!” Ben mengumpat dengan nada sengit.

Namun, mendadak menoleh Sabella dengan tatapan redup. “Oke, Sabella … aku akan pergi denganmu saja.” Ben mencampak ponselnya kasar ke saku kembali.

“Tapi, Mas. Masak berduaan …,” sahut Sabella. Jawabannya pun abu-abu.

“Lah, kan lihat konser. Banyak orang lah!” sahut Ben dengan nada sedikit tinggi tanpa disadari.

“Tapi …,” ucap Sabella merasa serba salah. Ekspresinya ragu-ragu.

Ben jadi kesal, tanganya mengacak rambut sendiri sambil menatap Ryker dengan tajam. “Egois, Lu!’” cercanya.

“Baiklah, Ben. Aku ikut kalian. Sabella, habis di sini … ada tanding lagi?” Ryker pun tidak sampai hati menolak lagi. Sepertinya Sabella pun ingin nonton. Ya, hitung-hitung untuk support kemenangannya.

“Iya, nanti di Yogyakarta. Skala Indonesia.” Sabella menyahut dengan wajah berbinar. Ben merasa lega melihatnya.

Merasa kesal sekali dengan Ryker. Mentang-mentang tidak niat menikah. Sama sekali tanpa efforts menyenangkan hati Sabella. Bukankah dia harus amanah? Ayahnya adalah orang yang ditunjuk Kakek sebagai wali pengganti bagi Sabella. Namun, sebab sibuk dan kurang sehat, Rykerlah yang diminta mewakili. Dasar pria patah hati, alhasil dia jadi mati rasa!

Ben berjalan memimpin sambil sibuk merutuki Ryker di sepanjang menuju latar parkir. Telah ada mobil sewa menunggu sekaligus seorang supir yang juga disewa. Tidak ingin mendapat resiko di perjalanan, menyadari dirinya buta dengan rute di Kota Surabaya.

🍒

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Lamaran Tiga Lelaki Hebat Warisan Kakek   139. Takdirnya Begitu

    Setelah enam bulan berikutnya, suara tangis bayi terdengar melengking dari ruang bersalin pagi itu. Wanita yang berdiri di pintu terlihat meraupkan kedua telapak tangan ke wajahnya. Bibir merahnya mengucap syukur atas kelancaran proses bersalin istri bosnya. Ia adalah Ivana. Kemudian berbalik badan meninggalkan ruang bersalin, menuju kamar VIP yang tadi sempat diurusnya di muka dan kini sudah siap ditempati. Satu tas bayi besar dia tarik dari atas sofa di depan pintu dan dan dibawanya masuk ke dalam kamar. Ivana pun dengan cekatan menatanya ke dalam lemari. Menjelang tengah hari. Kamar ibu dan anak itu sudah diisi sesuai nama pemilik sewa yang dicantumkan. Adalah keluarga kecil Tuan Ryker Idris yang telah mendapat seorang putra tampan dari istrinya yang cantik. Telah melahirkan secara normal seorang bayi sehat pagi tadi dan sekarang sedang tergolek di atas ranjang. Kedua-duanya, sang ibu dan si bayi tertidur pulas. “Sebaiknya tidak usah kemari. Jangan membuat suasana jadi tidak ko

  • Lamaran Tiga Lelaki Hebat Warisan Kakek   138. Tidak Akan Selingkuh

    Sabella baru berjemur dari balkon saat Ryker baru menutup panggilan di ponsel. Lelaki itu habis mandi dan bersiap-siap pergi ke kantor kerjanya.“Dari siapa, Mas?” tanya Sabella sambil meletakkan handuk kecil di cap stok. Ryker terlihat menghela napas. “Dari Sam. Ia sudah sampai satu jam lalu di Bangkok.” Sabella ikut lega. Merasa iba dengan Bulan. Harus memulai dari awal segalanya. Semoga ia bisa menerima kenyataan pahit itu andai suatu saat menemukan kasus ayahnya. Sabella ikut duduk di tepi ranjang. Matanya masih tertahan pada punggung Ryker yang sedang meraih celana dan kemeja dari gantungan. “Mas … Jasmin sudah sampai di Surabaya?” tanyanya pelan. Nadanya dibuat sebiasa mungkin, padahal dadanya sedikit berdebar menatap raga suaminya. Ryker berbalik setengah badan. Kemeja belum ia kenakan, memperlihatkan dada bidang yang membuat Sabella refleks menahan napas. Lelaki itu menatapnya sekilas, lalu mengangguk ringan. “Sudah,” jawabnya singkat. Sabella buru-buru mengalihkan

  • Lamaran Tiga Lelaki Hebat Warisan Kakek   137. Bukan Pedofil

    Lelaki tampan berprofesi mentereng itu sedang menyandar dengan meletak tangannya di atas dahi. Matanya terpejam rapat tetapi ponselnya masih menyala terang. “Sam!” seru Ryker saat masuk ke dalam ruangan. Lelaki yang adalah Samuel seketika menurunkan tangan dan membuka matanya. Tatapan datarnya langsung menajam saat melihat Sabella. Ia segera menegakkan punggungnya. “Kenapa kau mengajaknya? Sudah kubilang datanglah sendiri.” Samuel terlihat suntuk. Ia sempat berpesan agar Ryker datang sendiri tanpa Sabella. Dasar pengantin baru, sudah hamil pulak!“Dia istriku. Selain kerja, tentu saja kubawa. Lagipula, agar kau tak sekalipun mengharap jandanya.” Ryker menjawab datar dan duduk di depan Samuel. “Duduklah, Bel,” ucapnya menoleh Sabella. Samuel mengetatkan rahang giginya. Sabella telah duduk manis di sebelah suaminya. Ia tampak ikut menyimak dan tidak bermain ponsel. Ingin hati mengumpat tetapi lelaki beruntung yang datang bersama Sabella itu adalah harapannya saat ini. Baiklah, tida

  • Lamaran Tiga Lelaki Hebat Warisan Kakek   136. Panggilan Misteri

    Dua Minggu kemudian di suatu sore. Mama Ulfanah barusan pergi saat Ryker masuk ke dalam kamar. Suami dari Nyonya Sabella itu baru saja pulang kerja “Mas!” seru Sabella terkejut. Ia baru keluar dari kamar mandi dan mendapati Ryker tengah melepaskan baju kerja. “Terkejut? Sengaja gak ngasih pesan ke kamu, aku pulang cepat hari ini, Bel. Capek.” Ryker menatap perempuan yang di matanya terlihat makin cantik dengan kehamilan mudanya. Sabella telah menghampiri dan membantu melepaskan bajunya. “Mau aku pijat?” tawar Sabella dengan ekspresi khawatir. Ia membawa kemeja dan baju pelapis milik suaminya ke dalam keranjang kotor. “Kamu dikasih vitamin apa lagi sama Mama?” tanya Ryker dengan tatapan seksama. “Gak tau, gak nanya lagi. Aku minum saja, biar senang.” Sabella pun tersenyum. Ryker tersenyum kecil dan mengelus lembut rambut Sabella. Merasa begitu sayang pada istrinya! Ia sempat bertemu mamanya di lorong kamar dengan membawa segelas kosong yang katanya bekas minuman bervitamin unt

  • Lamaran Tiga Lelaki Hebat Warisan Kakek   135. Lambat Tiga Periode.

    Angin berhembus kencang pagi itu. Mendung tebal dengan hawa dingin menusuk yang pertanda turun hujan tidak lama lagi. Bangunan megah itu masih seperti biasanya. Lengang dengan beberapa pekerja yang sesekali berkelebat. Saat ini adalah tiga bulan setelah Ryker dan Sabella menikah. Mereka telah kembali ke rumah keluarga dan sang istri ikut tinggal di kamar suaminya. Mereka tengah sarapan bersama pagi ini. Pak Azis terlihat segar dengan ekspresi yang cerah. Ia beru mendengar pengakuan dari putranya bahwa anak menantu telah tidak datang bulan selama dua kali periode berturut-turut. Jika bulan ini pun tidak datang, maka akan masuk tiga kali periode. “Nanti sore pergi saja ke dokter kandungan. Jika Samuel, sepertinya tidak valid.” Pak Azis berbicara pada Ryker dan Sabella. “Dia pun bisa saja, Pa. Hanya bukan pakemnya.” Ryker menyahut ucapan papanya. Ia tidak lupa bagaimana kemampuan Samuel yang hebat. “Ya sudah, Ryk. Kali ini harus pergi periksa. Biar gak bikin penasaran, sudah tiga b

  • Lamaran Tiga Lelaki Hebat Warisan Kakek   134. Pamanmu Penjahat

    Kali ini, dua insan peneguk nikmat dunia sedang makan pagi bersama di balkon. Wajah perempuan cantik itu sedikit muram meski matanya berbinar. “Makan di sini kan sudah sama dengan menghirup udara luar, kan?” tanya Ryker dengan tenang. Meski terlihat senyum tipis di bibir seksinya. “Tapi kalo dilihat orang, gimana?” Sabella terlihat resah. “Di sini serba privasi. Coba di bagian mana yang kemungkinan orang bisa melihat ke arah sini?” tanya Ryker. Suapan terakhir nya sudah berakhir beberapa menit lalu. Sabella pun tersenyum. “Tiba-tiba ada pesawat terbang, gimana?” ucapnya. Ryker seketika tersenyum lebar. “Mana ada pesawat terbang serendah kamar hotel lantai sebelas?” tanyanya masih dengan senyum mengembang. Sabella pun diam. Meski masih merasa kikuk, ia pasrah dengan dressnya yang pendek. Lagi-lagi adalah Ryker yang mencabut dari tumpukan untuknya. Meski kali ini sebatas lutut tetapi bagian lengan hanya bertali. Membuatnya terlihat begitu cantik. Ryker bilang, ia harus me

  • Lamaran Tiga Lelaki Hebat Warisan Kakek   111. Menuju Titik Biru

    Ryker berdiri di dekat jendela ruang rawat inap papanya. Ia menatap jauh keluar tanpa benar-benar melihat objek apapun. Pikirannya terus tertuju pada Sabella yang belum ditahu di mana rimbanya. Samuel tidak menemukan. Sabella tidak kembali ke hotel. Ponselnya juga tidak aktif. Bahkan Ryker sendir

  • Lamaran Tiga Lelaki Hebat Warisan Kakek   109. Ben Sableng

    Melihat kepatungannya, Seketika Samuel kembali mendekat dan bertanya. “Ada apa, Sabella?” Ekspresi Sabella terlihat serba salah dan segan. Kemudian menggeleng. “Aku … nggak bisa ikut ke sana, Mas. Maaf, ya,” ucapnya pelan dengan ekspresi yang bingung. Apa mereka tidak paham perasaannya saat ini?

  • Lamaran Tiga Lelaki Hebat Warisan Kakek   106. Dua Tamu Istimewa

    Ponselnya kembali bergetar. Ben menelepon lagi. Sabella hanya menatap layar itu tanpa niat mengangkat. Kali ini sedikit patuh saja pada Ivana daripada dampak pelanggarannya akan jadi merepotkan. Akhirnya Ben mengirimkan pesan saja. “Kamu akan menyesal, Sabella.” Tulisnya singkat. Sabella me

  • Lamaran Tiga Lelaki Hebat Warisan Kakek   105. Sang Penjemput

    Sabella merasa cukup nyaman tinggal di kamar itu. Semua kebutuhannya dilayani dengan cepat, bahkan tanpa perlu diminta berulang. Makanan, pakaian, hingga keperluan kecil lainnya selalu tersedia. Ia tidak pernah diminta membayar apa pun. Hal itu justru membuatnya heran. “Siapa yang menjamin semua

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status