LOGIN“Hanya semalam, sebelum ke Semarang!” Ryker berseru sebelum pergi menuju lobi.
Sabella menelan ludah susah payah. Dari kecil terbiasa tinggal di asrama perempuan, tiba-tiba ikut para lelaki dan tinggal bersama? Ini dialaminya sungguhan atau hanya mimpi kesiangan? “Jangan ragu, Sabella. Kamu sangat aman. Kami bukan lelaki garangan. Lagipula, sebelum menikah, kita tercatat sebagai saudara. Hanya semalam, besok pagi kita sudah terbang ke Semarang,” ucap Ben. Seperti tahu apa yang dipikir Sabella. Dia menjelaskan sambil berjalan lambat. Mereka berhenti di depan lift. Tidak lama Ryker datang dengan satu kunci di genggamnya. Kedatangan lelaki tegap itu bersamaan dengan pintu besi yang membelah. Sabella berusaha tenang. Mengikuti mereka masuk ke dalam kotak lift. Coba lebih yakin dan percaya pada lelaki-lelaki yang disebut Kakek dalam wasiatnya. Berharap asa di dada yang selama ini ingin memiliki seseorang, bahkan beberapa orang sebagai keluarga, sebentar lagi terwujud. Tidak masalah meski harus lewat jalur pernikahan. Ben telah menjelaskan siapa mereka bagi Sabella sepanjang jalan menuju apartemen. Dirinya adalah putra tunggal dari adik bungsu Kakek. Selama ini tinggal di Semarang dan orang tua di luar negara. Dalam kata lain, Beniqno, lelaki berusia 28 tahun itu adalah pamannya. Ryker, lelaki 31 tahun itu adalah cucu kandung Kakek beserta adik perempuannya yang sudah menikah. Ayahnya Ryker adalah kakak angkat mendiang ibunya Sabella yang diangkat anak oleh Kakek. Sedangkan Samuel Bastian, 29 tahun, selain jadi dokter pribadi kepercayaan, orang tuanya pun kerabat Kakek, bersahabat dengan Ben dan Ryker sejak lama. Mereka hampir selalu bersama sejak kecil saat orang tua tinggal dekat. Siapa sangka, kini berakhir pada serupa kompetisi demi mendapat wanita sekaligus harta waris dari Kakek. Namun, kenapa Sabella diletak di asrama oleh Kakek sejak kecil? Ben angkat bahu tidak tahu. Sabella berkali-kali mengambil napas dalam, ditahan sebentar, dan kuat dihempaskan. Merasa hidupnya berubah penuh pelangi tiba-tiba. Dirinya bukanlah munafik, tidak terbesit niat untuk menolak wasiat Kakek. Rasanya jenuh terlalu lama hidup di asrama. Ini peluang tepat untuk pergi dari sana. Ya, dirinya yang selama ini sudah lelah menjalani hidup seorang diri di muka bumi, tiba-tiba kedatangan tiga lelaki saudara sekaligus calon suami yang bisa dipilih salah satu untuk dinikahi. Bukan hanya lelaki penopang hidup yang didapat, bahkan bonus warisan yang tidak habis di semua tanjakan. Ah, kurang senang apalagi hidupnya nanti, kan? “Sabella …! Kamu melamun? Lekas masuk!” Seruan Ben membuat tersenyum. Seketika lelaki itu tertegun. Senyum yang ingin dilihat, akhirnya terbit. Adalah senyum Sabella yang pertama kali sejak bertemu di asrama, terlihat sangat manis dan cantik. Rasanya jadi tertampar. Sabella yang tidak ada hubungan darah, terlihat begitu sedih dengan perginya Kakek. Dirinya … saat pemakaman pun hampir tidak datang jika tidak dipaksa orang tua. Tiba-tiba justru terdaftar jadi ahli waris. Maaf, Kakek! Ben berjanji harus menikahi Sabella dan akan membuat gadis sedih itu tersenyum sepanjang waktu. “Lekas bawa masuk, Ben!” seru lelaki yang tadi membuka pintu dan kini sudah di dalam sana. “Silahkan masuk, Sabella.” Ben bicara sambil menepi. “Permisi, Mas.” Sabella sedikit bungkuk saat melewati Ben yang menyandar daun pintu. Dia mendekat pada Ryker yang berdiri memandangnya. Namun, lelaki itu berbalik punggung saat Sabella hampir tiba. Tangan kekarnya sempat menepuk pintu sambil berlalu. Adalah pintu kamar yang sudah ada anak kunci menggantung di lubang. Bahkan, tas berisi baju dan sedikit barangnya sudah di bawah pintu kamar. Sabella tertegun, ini konyol sekali sebab dirinya justru melupakan barang itu. Terlalu efforts membuatnya mudah lupa. Semua ini masih terasa mimpi! “Silahkan istirahat siang, Sabella.” Ben sungguh gercep dengan membukakan pintu kamar. Merasa sangat senang, lagi-lagi gadis anggun berkerudung yang murung itu tersenyum. Membuat Ben bersemangat. “Terima kasih, Mas,” ucap Sabella. Buru-buru mengambil daun pintu untuk ditutup. Resah andai Ben makin sigap dan ikut ke dalam kamar. Diperhatikan sedemikian, merasa justru geli. Membuat ingin tertawa tetapi berusaha ditahannya. Lega. Sabella melepas kerudung dan buru-buru membongkar tas. Mengambil handuk dan ingin mengguyur tubuh. Rasanya sungguh gerah. Dia pergi ke kamar mandi setelah menyalakan mesin pendingin ruangan. Ben bilang, petang ini akan datang seorang lagi, yakni Samuel. Seharusnya juga hadir di asrama, tetapi terlanjur banyak janji dengan pasien-pasienya. Jadi, dokter warisan itu akan menyusul belakangan. Tok Tok Tok Sabella buru-buru mengemas sajadah dan mukena yang baru dipakai untuk ashar. Kerudung di atas kasur segera disambar dan dipakai cepat. Meski begitu, hasilnya tetap simetris membungkus rambut dan membingkai indah wajahnya. Ternyata Ben sudah menunggu di balik pintu. Senyum lelaki berhidung mancung itu seketika mengembang. Sabella mengakui ketampanannya paripurna. “Ada apa, Mas?” tanyanya menahan napas. Seperti mimpi jika lelaki di depannya boleh jadi suaminya. “Ayo, kita makan di luar. Apa tadi bisa tidur? Kamu sudah tiga jam di dalam kamar,” ucap Ben tenang dengan suara yang hangat. “Bukan tidur. Tetapi ngobrol sama teman-teman. Pada kaget aku akan pindah dari asrama.” Sabella menyahut sambil buru-buru menepi. Ben siaga mengambil daun pintu dan menutupkannya. Gercep sekali. “Apa kamu ada janji, atau rencana yang belum lunas di kota ini? Jangan sampai setelah di Semarang tiba-tiba ingat tapi tidak bisa apa-apa.” Ben mengingatkan. Sebagai usahawan yang sering pergi jauh ke luar kota, dirinya paham sekali dengan urusan seperti ini. Meski ada asisten yang siaga menangani, diusahakannya untuk tidak terulang lagi di kemudian hari. “Mas!” Sabella tiba-tiba berseru. Wajahnya terlihat cemas. Sepertinya apa yang dikata Ben ada benarnya. “Mas, aku … aku ada jadwal tanding renang mewakili klub. Apa Mas Ryker sudah beli tiket?” tanya Sabella dengan segan. Ben terus memandangnya dengan dahi berkernyit. “Kapan bertanding?” tanya Ben. Dalam hati agak kaget. Ternyata gadis ini selain cantik bagus juga, ada prestasi-prestasinya. “Besok pagi. Aku benar-benar lupa. Kalian datang begitu mengagetkanku.” Sabella merasa bingung. “Hey, Ryk!” Ben berseru. Ryker kebetulan baru keluar dari kamar dan sudah tampak rapi. Bercelana jeans panjang warna denim dengan polo shirt warna milo. Lelaki berkulit gelap dibanding Ben itu tampak gagah. Kini sudah menghampiri dan berdiri di depan mereka. “Sabella masih ada tanding renang besok pagi. Batalkan tiketnya. Atau kamu duluan saja, kami nanti menyusul. Bagaimana?” tanya Ben dengan tatapan tegas. Dirinya tidak keberatan membatalkan janji temu dengan rekan kerja demi Sabella. Ryker berkernyit dahi dengan menatap Ben dalam-dalam. Tidak lupa jika lelaki berkulit putih dan tampan itu mewanti-wanti akan perang tender sebelum makan siang di Semarang. Demi itu, Ryker membeli tiket pagi-pagi untuk terbang besok. Sekarang dengan enteng menyuruh membatalkan. Dasar, Ben! Coba andai Sabella tidak cantik. Busyet memang! 🫒“Sajian penting pencuci mulut belum ada …,” ucap Ben berkomentar setelah melihat-lihat di seluruh permukaan meja. Ryker acuh tak acuh tanpa menyahut dan kini berdiri. Meninggalkan kursi dan mendekati lemari es. Lalu mengambil posisi jongkok untuk mencari sesuatu di dalamnya. “Kenapa Mas Ryker terlihat repot? Kenapa tadi tidak memintaku … maksudku, aku bisa masak. Aku pikir, kalian tidak doyan makan rumahan.” Sabella meluahkan rasa heran dan merasa jadi segan. Sebab kemarin, mereka berdua menolak tawaran untuk makan siang di asrama. Tetapi membawanya makan siang di restoran. Alhasil makanan banyak di asrama hanya Pak Edo, sang kuasa hukum Kakek itu saja yang mengapresiasi. “Kita sebenarnya justru tidak suka makan di luaran, Bel. Kecuali tidak bisa pulang ke rumah dan sedang buru-buru.” Ben menjawab sambil mengipasi spaghetti panas di piringnya. “Iyakah? Tapi … Mas Ben bilang, orang tua tidak di Indonesia. Lantas, pulangnya ke mana?” tanya Sabella. Meski lelaki itu terindikasi pemai
Keadaan ini membuat Sabella jadi patung. Namun, orang-orang terus heboh dan tidak peduli dengan yang terjadi di sekeliling, apalagi melihatnya yang sedang di posisi sulit. “Maaf, Mas. Terima kasih, ya …,” ucap Sabella jadi serba salah. Coba menggerakkan badan ke samping, berharap lelaki di belakangnya menjauh. “Duduklah saja. Aku akan menelepon, Ben.” Ryker berkata pelan dan bukan keras sebab jarak kepala mereka jadi dekat. Meski ada kursi yang menghalang di antara badan, Sabella merasa risih sekaligus malu. Wajah bersihnya kemerahan terkena sorot lampu. Terasa Ryker menarik tangannya dan menjauh. Suasana berubah jadi canggung dan mereka sama-sama membuang pandang ke panggung. “Hah, dapat banyak! Kalian tidak ingin ambil video?!” seru lelaki bersama sosoknya mendekat. Langsung duduk di sebelah Sabella tepat. Yakin bahwa bangku yang kosong itu miliknya. Ryker menyimpan ponselnya dan tidak jadi menelepon. Ben datang sendiri dan kemungkinan akan lebih panjang umur. “Sud
Mereka singgah singkat di restoran pusat kota untuk makan siang. Hanya mengambil waktu cepat sebelum meneruskan perjalanan. Arus kendaraan di jalanan menuju gedung cukup padat. Bau-bau aliran pengunjung konser besar grup musik pop asal Irlandia itu terasa kuat. Sebab datang lambat, gegap gempita konser dari dalam stadion terdengar jelas ke arah pintu masuk. Sabella berjalan di tengah diapit dua lelaki di depan dan belakang dengan Ben yang memimpin. Namun, lelaki gagah yang akan menyerahkan tiket virtualnya itu gagal sebab seseorang memanggil namanya. Perempuan dengan dress pendek yang terlihat seksi dan cantik sedang menghampiri dan menarik lengan Ben menepi. Ryker pun segera ikut keluar baris antrian dan diikuti Sabella. “Ben, nomorku kamu blokir? Aku selalu gagal menghubungi kamu. Kenapa? Kamu gak ganti nomor kan?” tanya perempuan itu dengan menangis. Ben baru saja menolak tegas pelukannya. “Sudah kubilang, hubungan kita bukan apa-apa. Hanya sementara dan sekarang berakhir.”
“Gordennya otomatis kerja, Mbak. Akan membuka sendiri menjelang siang. Kolam pun biasanya pukul sepuluh pagi hingga pukul satu siang sudah tidak ada aktivitas. Jadi, harap maklum lah, Mbak.” Wanita itu menjelaskan saat Sabella memrotes tegas akan mudahnya akses laki-laki. “Oh, baiklah. Saya mengerti!” sahut Sabella setelah membisu dan akhirnya memahami. Sadar jika ini fasilitas umum yang asalnya bukan hanya untuk wanita. Hanya kali ini pertandingannya khusus dan kebetulan memilih di sini. Sempat melirik lagi ke sebelah. Mereka berdua sudah tidak ada di balik kaca. Sabella yakin tidak salah lihat bahwa satu dari dua lelaki tadi adalah Ryker! “Terima bunganya, Mbak. Aman kok!” CS wanita kembali mengulurkan seikat bunga itu. “Dari siapa, ya, Mbak?” Sabella menerima sambil bingung. Bau mawarnya harum dan terasa menyegarkan. “Dari anak kecil yang katanya Mbak tolong pas di toilet. Dia kesini untuk mendukung guru sekolahnya. Tetapi dia bilang, juga ikut senang jika Anda yang menang.” Wa
Lomba renang yang diikuti hanya khusus perempuan. Ben meninggalkannya di pintu masuk National Swimming Club dan kembali ke apartemen. Dia mengantarkan sendirian. Ryker tiba-tiba mengambil part time sebagai joki pendamping pada sebuah klub kuda di kota. Mungkin semasa Kakek masih ada, lelaki itu sudah sering mendatangi Surabaya.Entah sengaja atau tidak, dan benar atau salah, Sabella tahu jika pusat pacu kuda di kota adalah di sebelah gedung renang. Bahkan dengan tembok berhimpitan. Namun, dirinya enggan bertanya untuk memastikan di pacuan mana Ryker pergi. Dahi Sabella berkernyit, kenapa Kakek tidak pernah saling mengenalkan mereka semua? Sabella memasuki area kolam dengan penuh tanya. Sebelum pergi ke ruang ganti, dirinya pergi ke toilet untuk buang air kecil. Meski lomba ini semi tertutup dan khusus wanita, pengunjung tetap ramai. Bahkan berjalan pun harus fokus. Semua perempuan berlalu lalang tanpa putus. Ups! Sedetik sempat ragu, antrian di empat pintu toilet cukup panjang. Na
“Hanya semalam, sebelum ke Semarang!” Ryker berseru sebelum pergi menuju lobi. Sabella menelan ludah susah payah. Dari kecil terbiasa tinggal di asrama perempuan, tiba-tiba ikut para lelaki dan tinggal bersama? Ini dialaminya sungguhan atau hanya mimpi kesiangan? “Jangan ragu, Sabella. Kamu sangat aman. Kami bukan lelaki garangan. Lagipula, sebelum menikah, kita tercatat sebagai saudara. Hanya semalam, besok pagi kita sudah terbang ke Semarang,” ucap Ben. Seperti tahu apa yang dipikir Sabella. Dia menjelaskan sambil berjalan lambat. Mereka berhenti di depan lift. Tidak lama Ryker datang dengan satu kunci di genggamnya. Kedatangan lelaki tegap itu bersamaan dengan pintu besi yang membelah. Sabella berusaha tenang. Mengikuti mereka masuk ke dalam kotak lift. Coba lebih yakin dan percaya pada lelaki-lelaki yang disebut Kakek dalam wasiatnya. Berharap asa di dada yang selama ini ingin memiliki seseorang, bahkan beberapa orang sebagai keluarga, sebentar lagi terwujud. Tidak masalah mes







