Share

2. 3 Lelaki

Penulis: kamiya san
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-18 11:51:02

Sabella terperangah.

Tidak. Ini pasti salah alamat. Tidak mungkin kakeknya yang tinggal di rumah sederhana itu punya tabungan sebesar itu.

Apalagi bisa menyediakan tiga calon suami potensial untuknya.

Pasti bukan dirinya yang dimaksud oleh Bapak Edo ini–meskipun beliau menyebut nama kakeknya dengan benar.

Sabella sibuk menyangkal semua dalam kepalanya sendiri karena terkejut, sejenak melupakan bahwa pria bermata teduh yang sejak tadi diam di samping Pak Edo sempat berpapasan dengannya di rumah kakek.

Sementara itu, Pak Edo kembali menjelaskan.

“... Warisan harta tunai tersebut akan diberikan kepada Nona Sabella Nazaha setelah Nona Sabella menikah–terhitung tiga bulan atau sembilan puluh hari dari hari kematian Bapak Ahmad Rifai,” terang Pak Edo. Beliau membaca dengan tenang dan tegas, membuat Sabella semakin sesak napas sebab terkejut luar biasa.

“Calon pertama adalah Samuel Bastian. Beliau tidak ikut bersama kami kemari, jadi Nona belum bisa menemuinya,” lanjut Pak Edo. “Kedua adalah Beniqno Zayn dan yang ketiga adalah saudara Ryker Idris–beliau ada di sini.”

Tatapan Sabella beralih pada pria yang sempat berpapasan dengannya di rumah kakek.

Pria itu tampak begitu santai, meski keduanya beradu tatap. Tampak tampan dengan garis wajah cemerlang meski tatapannya datar. Seolah ini semua tidak penting dan hadirnya sekadar saksi.

“Tidak ada paksaan, Nona. Kalian juga boleh tidak saling menikah, tetapi uang kakek Nona tidak bisa dicairkan.” Pak Edo meringkas isi wasiat agar Sabella yang masih begitu shock, lebih cepat memahami. 

“Tapi … tapi bagaimana bisa … tiga….” Sabella bergumam pelan.

Pak Edo tersenyum dan menarik napas. Memahami perasaan Sabella sebab kabar yang tidak disangka-sangka. 

Mendapat warisan yang banyaknya tidak kira-kira dan bonus mendapat calon suami dengan tiga pilihan sekaligus. Siapa tidak terkejut?

Bahkan bukan lelaki kaleng-kaleng yang disediakan mendiang Kakek, tetapi lelaki-lelaki terbaik dari keluarganya!

Salah satu di antara ketiga calon yang tadi disebutkan adalah dokter spesialis terkemuka, lalu ada seorang pengusaha besar, dan seorang lainnya merupakan bos sekaligus atlet panahan.

Oleh karena itu, nada bicara Pak Edo menjadi lebih lembut agar Sabella tidak terlalu bingung.

“Kakek Anda hanya ingin yang terbaik, Nona,” ucap Pak Edo . “Beliau cemas. Karena beliau tahu, hanya beliaulah yang Nona miliki selama ini.”

Sabella kembali terdiam, tenggelam dalam pikirannya sampai tidak menyadari kalau Pak Edo telah pergi ke belakang bersama kepala asrama untuk mengurus beberapa hal.

Sadar-sadar, Sabella kembali beradu tatap dengan si pria bermata teduh itu. Sama seperti sebelumnya, sekalipun sorot matanya tanpa permusuhan, ekspresi pria itu tampak kaku dan datar.

Ia berdeham. Canggung.

“Maaf, Anda siapa? Kenapa hari itu keluar dari rumah Kakek?” tanya Sabella. Memaksakan diri membuka percakapan dan mencairkan suasana. 

“Sabar saja, nanti pun kamu akan paham.” Lelaki itu menjawab singkat sambil menyandarkan kasar punggungnya. 

Lelaki itu sepertinya pelit berbicara. Sabella jadi enggan bertanya tentang dua dua lelaki lainnya.

Sabella jadi agak dongkol. Hilang sudah selera bicaranya. Lelaki arrogant. Padahal selain tidak tahan penasaran, juga demi pecah suasana. Merasa aneh jika mereka hanya saling pandang tanpa berbicara. Ternyata direspon seperti itu saja. 

Ceklerk!

Ketegangan mereka terjeda. Keduanya sama-sama menoleh ke arah pintu masuk.

“Permisi–eh…!” Lelaki tampan dengan kemeja putih dan berdasi panjang, termangu di tengah pintu yang baru dibukanya sedikit kasar. Memandang Sabella tanpa kedip dan perlahan tersenyum. Dia berjalan masuk dan mendekat ke sofa.

“Diakah Sabella itu, Ryk?” tanyanya.

Ryker mengangguk kecil. 

“Baca itu, Ben,” ucapnya kemudian, menunjuk sebuah papan di atas pintu.

Ben menoleh dan mendongak. Terlihat fokus dan jakunnya naik turun sejenak. “Oh, maaf!” serunya dengan ekspresi yang tidak enak.

Telah membaca tulisan ‘Dilarang merokok’ pada plakat yang dipasang di atas pintu luar dan di dalam. Senyumnya seketika berubah, menjadi segan dan rasa bersalah. Bergegas keluar lagi. Tidak lama pun masuk tanpa sebatang rokok berkebul asap terjepit di jarinya.

Pria itu tiba-tiba saja berlutut di depan Sabella dan mengulurkan tangannya.

“Kenalkan, Sabella,” ucapnya. Nada suara itu tidak lagi santai, melainkan serius. “Aku Ben. pria yang akan menikahimu.”

Sepasang mata Sabella terbelalak, sementara pipinya bersemu agak kemerahan.

Tak jauh darinya, Ryker terbatuk.

“Kenapa, Ryk? Kau sudah janji.” Ben sambil mengangkat alis. “Bukankah kau tidak ingin menikah?”

Ryker tidak menjawab. Ia hanya mengambil air minum di atas meja dan meneguknya.

“Meski aku sebelumnya sering main, setelah menikah, aku akan jadi pria terbaik. Kau tidak percaya padaku?” Ben menatap Ryker serius. “Aku akan menjaganya.”

“Kau harus tanya pendapatnya. Jangan memaksa,” ucap Ryker singkat.

“Ah, kau kan tidak mau menikah. Sementara Samuel  … yah, ia hanya sibuk dengan antrian panjang pasiennya. Lagian Samuel–”

“Jangan terlalu banyak bicara.”

Ben merengut. Namun, rupanya ia kemudian menyadari sesuatu.

“Eh, maaf, Sabella …,” ucap Ben segan. Dirasanya Sabella mungkin merasa mereka abaikan.. Wajah cantiknya tampak gelisah, bingung, dan canggung. Ben segera berdiri demi mengurangi ketegangan gadis itu.

“Sabella, berkemaslah.” Ryker tiba-tiba menegur.

Sabella terkejut. “Berkemas? Untuk apa…?” tanyanya makin tampak bingung.

“Meninggalkan asrama. Waktumu di sini selesai.” Ryker sambil melihat jam tangan dengan gestur tergesa. “Kau akan tinggal bersama kami untuk sementara.”

“Tinggal … bersama?” Sabella bertanya gugup. 

Ia akan tinggal seatap dengan mereka? Mana bisa!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Lamaran Tiga Lelaki Hebat Warisan Kakek   8. Belum Halal, Ben!

    “Sajian penting pencuci mulut belum ada …,” ucap Ben berkomentar setelah melihat-lihat di seluruh permukaan meja. Ryker acuh tak acuh tanpa menyahut dan kini berdiri. Meninggalkan kursi dan mendekati lemari es. Lalu mengambil posisi jongkok untuk mencari sesuatu di dalamnya. “Kenapa Mas Ryker terlihat repot? Kenapa tadi tidak memintaku … maksudku, aku bisa masak. Aku pikir, kalian tidak doyan makan rumahan.” Sabella meluahkan rasa heran dan merasa jadi segan. Sebab kemarin, mereka berdua menolak tawaran untuk makan siang di asrama. Tetapi membawanya makan siang di restoran. Alhasil makanan banyak di asrama hanya Pak Edo, sang kuasa hukum Kakek itu saja yang mengapresiasi. “Kita sebenarnya justru tidak suka makan di luaran, Bel. Kecuali tidak bisa pulang ke rumah dan sedang buru-buru.” Ben menjawab sambil mengipasi spaghetti panas di piringnya. “Iyakah? Tapi … Mas Ben bilang, orang tua tidak di Indonesia. Lantas, pulangnya ke mana?” tanya Sabella. Meski lelaki itu terindikasi pemai

  • Lamaran Tiga Lelaki Hebat Warisan Kakek   7. Siapa Bulan?

    Keadaan ini membuat Sabella jadi patung. Namun, orang-orang terus heboh dan tidak peduli dengan yang terjadi di sekeliling, apalagi melihatnya yang sedang di posisi sulit. “Maaf, Mas. Terima kasih, ya …,” ucap Sabella jadi serba salah. Coba menggerakkan badan ke samping, berharap lelaki di belakangnya menjauh. “Duduklah saja. Aku akan menelepon, Ben.” Ryker berkata pelan dan bukan keras sebab jarak kepala mereka jadi dekat. Meski ada kursi yang menghalang di antara badan, Sabella merasa risih sekaligus malu. Wajah bersihnya kemerahan terkena sorot lampu. Terasa Ryker menarik tangannya dan menjauh. Suasana berubah jadi canggung dan mereka sama-sama membuang pandang ke panggung. “Hah, dapat banyak! Kalian tidak ingin ambil video?!” seru lelaki bersama sosoknya mendekat. Langsung duduk di sebelah Sabella tepat. Yakin bahwa bangku yang kosong itu miliknya. Ryker menyimpan ponselnya dan tidak jadi menelepon. Ben datang sendiri dan kemungkinan akan lebih panjang umur. “Sud

  • Lamaran Tiga Lelaki Hebat Warisan Kakek   6. Jangan Banyak Gerak

    Mereka singgah singkat di restoran pusat kota untuk makan siang. Hanya mengambil waktu cepat sebelum meneruskan perjalanan. Arus kendaraan di jalanan menuju gedung cukup padat. Bau-bau aliran pengunjung konser besar grup musik pop asal Irlandia itu terasa kuat. Sebab datang lambat, gegap gempita konser dari dalam stadion terdengar jelas ke arah pintu masuk. Sabella berjalan di tengah diapit dua lelaki di depan dan belakang dengan Ben yang memimpin. Namun, lelaki gagah yang akan menyerahkan tiket virtualnya itu gagal sebab seseorang memanggil namanya. Perempuan dengan dress pendek yang terlihat seksi dan cantik sedang menghampiri dan menarik lengan Ben menepi. Ryker pun segera ikut keluar baris antrian dan diikuti Sabella. “Ben, nomorku kamu blokir? Aku selalu gagal menghubungi kamu. Kenapa? Kamu gak ganti nomor kan?” tanya perempuan itu dengan menangis. Ben baru saja menolak tegas pelukannya. “Sudah kubilang, hubungan kita bukan apa-apa. Hanya sementara dan sekarang berakhir.”

  • Lamaran Tiga Lelaki Hebat Warisan Kakek   5. Seikat Mawar

    “Gordennya otomatis kerja, Mbak. Akan membuka sendiri menjelang siang. Kolam pun biasanya pukul sepuluh pagi hingga pukul satu siang sudah tidak ada aktivitas. Jadi, harap maklum lah, Mbak.” Wanita itu menjelaskan saat Sabella memrotes tegas akan mudahnya akses laki-laki. “Oh, baiklah. Saya mengerti!” sahut Sabella setelah membisu dan akhirnya memahami. Sadar jika ini fasilitas umum yang asalnya bukan hanya untuk wanita. Hanya kali ini pertandingannya khusus dan kebetulan memilih di sini. Sempat melirik lagi ke sebelah. Mereka berdua sudah tidak ada di balik kaca. Sabella yakin tidak salah lihat bahwa satu dari dua lelaki tadi adalah Ryker! “Terima bunganya, Mbak. Aman kok!” CS wanita kembali mengulurkan seikat bunga itu. “Dari siapa, ya, Mbak?” Sabella menerima sambil bingung. Bau mawarnya harum dan terasa menyegarkan. “Dari anak kecil yang katanya Mbak tolong pas di toilet. Dia kesini untuk mendukung guru sekolahnya. Tetapi dia bilang, juga ikut senang jika Anda yang menang.” Wa

  • Lamaran Tiga Lelaki Hebat Warisan Kakek   4. Dia di Balik Kaca

    Lomba renang yang diikuti hanya khusus perempuan. Ben meninggalkannya di pintu masuk National Swimming Club dan kembali ke apartemen. Dia mengantarkan sendirian. Ryker tiba-tiba mengambil part time sebagai joki pendamping pada sebuah klub kuda di kota. Mungkin semasa Kakek masih ada, lelaki itu sudah sering mendatangi Surabaya.Entah sengaja atau tidak, dan benar atau salah, Sabella tahu jika pusat pacu kuda di kota adalah di sebelah gedung renang. Bahkan dengan tembok berhimpitan. Namun, dirinya enggan bertanya untuk memastikan di pacuan mana Ryker pergi. Dahi Sabella berkernyit, kenapa Kakek tidak pernah saling mengenalkan mereka semua? Sabella memasuki area kolam dengan penuh tanya. Sebelum pergi ke ruang ganti, dirinya pergi ke toilet untuk buang air kecil. Meski lomba ini semi tertutup dan khusus wanita, pengunjung tetap ramai. Bahkan berjalan pun harus fokus. Semua perempuan berlalu lalang tanpa putus. Ups! Sedetik sempat ragu, antrian di empat pintu toilet cukup panjang. Na

  • Lamaran Tiga Lelaki Hebat Warisan Kakek   3. Seatap dengan 2 Lelaki

    “Hanya semalam, sebelum ke Semarang!” Ryker berseru sebelum pergi menuju lobi. Sabella menelan ludah susah payah. Dari kecil terbiasa tinggal di asrama perempuan, tiba-tiba ikut para lelaki dan tinggal bersama? Ini dialaminya sungguhan atau hanya mimpi kesiangan? “Jangan ragu, Sabella. Kamu sangat aman. Kami bukan lelaki garangan. Lagipula, sebelum menikah, kita tercatat sebagai saudara. Hanya semalam, besok pagi kita sudah terbang ke Semarang,” ucap Ben. Seperti tahu apa yang dipikir Sabella. Dia menjelaskan sambil berjalan lambat. Mereka berhenti di depan lift. Tidak lama Ryker datang dengan satu kunci di genggamnya. Kedatangan lelaki tegap itu bersamaan dengan pintu besi yang membelah. Sabella berusaha tenang. Mengikuti mereka masuk ke dalam kotak lift. Coba lebih yakin dan percaya pada lelaki-lelaki yang disebut Kakek dalam wasiatnya. Berharap asa di dada yang selama ini ingin memiliki seseorang, bahkan beberapa orang sebagai keluarga, sebentar lagi terwujud. Tidak masalah mes

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status