MasukLomba renang yang diikuti hanya khusus perempuan. Ben meninggalkannya di pintu masuk National Swimming Club dan kembali ke apartemen. Dia mengantarkan sendirian. Ryker tiba-tiba mengambil part time sebagai joki pendamping pada sebuah klub kuda di kota. Mungkin semasa Kakek masih ada, lelaki itu sudah sering mendatangi Surabaya.
Entah sengaja atau tidak, dan benar atau salah, Sabella tahu jika pusat pacu kuda di kota adalah di sebelah gedung renang. Bahkan dengan tembok berhimpitan. Namun, dirinya enggan bertanya untuk memastikan di pacuan mana Ryker pergi. Dahi Sabella berkernyit, kenapa Kakek tidak pernah saling mengenalkan mereka semua? Sabella memasuki area kolam dengan penuh tanya. Sebelum pergi ke ruang ganti, dirinya pergi ke toilet untuk buang air kecil. Meski lomba ini semi tertutup dan khusus wanita, pengunjung tetap ramai. Bahkan berjalan pun harus fokus. Semua perempuan berlalu lalang tanpa putus. Ups! Sedetik sempat ragu, antrian di empat pintu toilet cukup panjang. Namun, tidak ada waktu lagi berpikir. Sabella segera menyambungkan diri di salah satu antrian yang baginya berpotensi mendapat giliran lebih cepat. Akhirnya, tinggal dua orang saja di depannya. Begitu lega dan penuh harap. Namun …. “Aduuh, antri panjang, Mbak!” seru bocah perempuan yang baru masuk ke dalam toilet. Ekspresinya cemas dan bingung. Menatap orang-orang di antrian yang terlihat acuh tak acuh pada keluhannya. “Sabar, Bul. Tahan … gimana lagi. Sini!” sahut gadis remaja yang kemungkinan baru tamat bangku SMP. Menarik tangan si bocil dengan sedikit paksaan. Sepertinya benar-benar sedang menahan pipis. Bahkan bocah cilik itu sambil mengangkat-angkat kaki dan memegangi miliknya yang berlapis dress kuning cantik. Terlihat begitu gelisah dan panik. Giliran Sabella pun tiba. “Adik, sini!” serunya pada dua gadis itu. Tinggal seorang lagi antrian yang sudah masuk dalam toilet dan sebentar lagi keluar. Dirinya benar-benar di depan pintu. Meski tampak ragu, bocil segera tanggap. Dia sempat menyambar tangan kakaknya untuk mendekati Sabella. Bersamaan terbukanya pintu. Sabella segera mundur dan ganti menempati antrian milik bocil. Pandangannya menghampiri pintu sebelah dan wajah imut itu sempat menatapnya sambil tersenyum sebelum pintu menutup. Antrian baru Sebella belum kelar juga saat bocil sudah keluar. “Terima kasih, ya, Mbak!” ucap kakaknya saat melewati sambil menggandeng lengan bocil. Sabella pun mengangguk. Si bocil juga memandangnya disertai senyum manis. Bahkan berlalu dengan memberi tautan jempol dan telunjuk yang membentuk hati mungil. Sabella tersenyum lebar dan membalasnya juga demikian. Mereka tidak saling bicara sebab terhalang oleh etika dalam antrian. Ceklek. Akhirnya selesai juga, Sabella keluar dari toilet dengan perasaan sangat lega. Berjalan cepat dan ingin pergi ke ruang ganti. Panitia sudah memintanya untuk segera sampai di kolam lokasi lomba. Dengan baju renang model swimsuit, Sabella sangat cantik dan good looking. Meski jadi lebih seksi, penampilannya tampak anggun. Udara pagi di kolam tidak sedingin biasanya, atau mungkin jantung Sabella yang berdetak kencang dan akhirnya berhasil ditenangkan. Bau kaporit samar menyapa hidung, ini yang tidak disukainya. Tidak habis pikir, padahal kolam level nasional. Bisa-bisanya beraroma sama saja! Sorak penonton menggema di dinding tribun. Ini adalah tanding pertama dari total dua kali pertandingan. Babak penyisihan dan babak final. Tegang sekali, mengingat dirinya adalah perwakilan klub, rasanya memikul beban di pundak. Merasa harus memberi kenangan yang tidak memalukan untuk amanah terakhir. Ya, dirinya akan pergi jauh setelah ini. Sabella berdiri di atas balok start, kacamata renang telah lekat terpasang, napas pun diatur sangat pelan. Pelatih baiknya di klub sempat mendekat dan berbisik, “Fokus, Bell. Jangan lihat kanan kiri.” Sabella mengangguk samar dan fokus pada aba-aba juri hingga peluit pun berbunyi. Byur! Tubuhnya melesat membelah air. Setiap kayuhan adalah pertaruhan harga diri. Separuh lintasan, bahunya mulai panas. Sedaya upaya menambah tempo kayuh. Hingga satu dorongan terakhir dengan napas hampir berakhir, tangannya menyentuh dinding! Sorakan pecah. Juri sedang menyeru namanya. Dadanya naik turun, campur aduk antara lega dan sedikit tak percaya, dirinya juara! Satu jam kemudian. Di tanding kedua, Sabella merasa lebih siap dan jadi lebih tenang. Rasa percaya dirinya menumpuk berlipat-lipat dibandingkan sebelumnya. “Kamu pasti bisa di final ini, Bel,” gumamnya pada diri sendiri sebelum terdengar peluit dari juri. Byur! Start kedua lebih brutal. Lawannya agresif dan handal. Sadar jika tanding final kali ini jauh lebih menantang. Semua rival bukanlah kaleng-kaleng. Skill mereka telah terasah baik dan pastilah sangat benar. Sabella hampir hilang asa dan hampir tertinggal di putaran balik. Namun, ia memaksa tubuhnya melawan lelah. Kayuhan di detik-detik akhir seperti bola api yang menggumpal di paru-paru, terasa membakar. Perjuangan untuk bertahan dan mengayuh menggapai air tidaklah sia-sia. Bayangan pelatih di klub dan wajah sinis teman-teman membuatnya lebih kuat dalam semangat. Hening sekian detik saat kepalanya menyembul setelah tangannya menyentuh dinding kolam. Gemuruh tepuk tangan kembali meledak kemudian. Namanya disebut, Sabella kembali jadi sang juara! Di sela riuh tepuk tangan, Sabella menatap papan skor dengan mata berkaca-kaca. Dua kemenangan sekaligus didapatnya hari ini. “Sayangnya sudah tidak ada Kakek. Jika mendengarku menang dan melihat medaliku, Kakek pasti bangga padaku. Kali ini, tidak ada yang melihatku menang selain pelatihku.” Sabella berusaha keras menahan rasa haru sekaligus sedihnya. Matanya berkeliling coba mencari sosok sang pelatih. “Siang, Mbak. Ada bunga ucapan selamat untuk Anda!” Sabella menatap wanita yang adalah CS gedung dan sedang mengulurkan seikat rumpun mawar warna merah. Terlihat begitu segar dan indah. “Eh, dari siapa, Mbak?!” tanya Sabella antusias. Wanita itu tidak menyahut, tetapi kepalanya menoleh. Sabella ikut menoleh ke arah sama dan mendadak gelisah. Menyadari adanya bangunan di sebelah yang hanya terpisah pagar besi rendah, berdinding kaca dengan gorden yang tersingkap lebar, dan begitu transparan. Namun, rasanya lebih tercekat. Mendapati adanya dua lelaki di balik kaca yang sedang memandang, membuat Sabella menyambar handuk dan menutupkan cepat di tubuhnya dengan perasaan marah. 🍒“Sajian penting pencuci mulut belum ada …,” ucap Ben berkomentar setelah melihat-lihat di seluruh permukaan meja. Ryker acuh tak acuh tanpa menyahut dan kini berdiri. Meninggalkan kursi dan mendekati lemari es. Lalu mengambil posisi jongkok untuk mencari sesuatu di dalamnya. “Kenapa Mas Ryker terlihat repot? Kenapa tadi tidak memintaku … maksudku, aku bisa masak. Aku pikir, kalian tidak doyan makan rumahan.” Sabella meluahkan rasa heran dan merasa jadi segan. Sebab kemarin, mereka berdua menolak tawaran untuk makan siang di asrama. Tetapi membawanya makan siang di restoran. Alhasil makanan banyak di asrama hanya Pak Edo, sang kuasa hukum Kakek itu saja yang mengapresiasi. “Kita sebenarnya justru tidak suka makan di luaran, Bel. Kecuali tidak bisa pulang ke rumah dan sedang buru-buru.” Ben menjawab sambil mengipasi spaghetti panas di piringnya. “Iyakah? Tapi … Mas Ben bilang, orang tua tidak di Indonesia. Lantas, pulangnya ke mana?” tanya Sabella. Meski lelaki itu terindikasi pemai
Keadaan ini membuat Sabella jadi patung. Namun, orang-orang terus heboh dan tidak peduli dengan yang terjadi di sekeliling, apalagi melihatnya yang sedang di posisi sulit. “Maaf, Mas. Terima kasih, ya …,” ucap Sabella jadi serba salah. Coba menggerakkan badan ke samping, berharap lelaki di belakangnya menjauh. “Duduklah saja. Aku akan menelepon, Ben.” Ryker berkata pelan dan bukan keras sebab jarak kepala mereka jadi dekat. Meski ada kursi yang menghalang di antara badan, Sabella merasa risih sekaligus malu. Wajah bersihnya kemerahan terkena sorot lampu. Terasa Ryker menarik tangannya dan menjauh. Suasana berubah jadi canggung dan mereka sama-sama membuang pandang ke panggung. “Hah, dapat banyak! Kalian tidak ingin ambil video?!” seru lelaki bersama sosoknya mendekat. Langsung duduk di sebelah Sabella tepat. Yakin bahwa bangku yang kosong itu miliknya. Ryker menyimpan ponselnya dan tidak jadi menelepon. Ben datang sendiri dan kemungkinan akan lebih panjang umur. “Sud
Mereka singgah singkat di restoran pusat kota untuk makan siang. Hanya mengambil waktu cepat sebelum meneruskan perjalanan. Arus kendaraan di jalanan menuju gedung cukup padat. Bau-bau aliran pengunjung konser besar grup musik pop asal Irlandia itu terasa kuat. Sebab datang lambat, gegap gempita konser dari dalam stadion terdengar jelas ke arah pintu masuk. Sabella berjalan di tengah diapit dua lelaki di depan dan belakang dengan Ben yang memimpin. Namun, lelaki gagah yang akan menyerahkan tiket virtualnya itu gagal sebab seseorang memanggil namanya. Perempuan dengan dress pendek yang terlihat seksi dan cantik sedang menghampiri dan menarik lengan Ben menepi. Ryker pun segera ikut keluar baris antrian dan diikuti Sabella. “Ben, nomorku kamu blokir? Aku selalu gagal menghubungi kamu. Kenapa? Kamu gak ganti nomor kan?” tanya perempuan itu dengan menangis. Ben baru saja menolak tegas pelukannya. “Sudah kubilang, hubungan kita bukan apa-apa. Hanya sementara dan sekarang berakhir.”
“Gordennya otomatis kerja, Mbak. Akan membuka sendiri menjelang siang. Kolam pun biasanya pukul sepuluh pagi hingga pukul satu siang sudah tidak ada aktivitas. Jadi, harap maklum lah, Mbak.” Wanita itu menjelaskan saat Sabella memrotes tegas akan mudahnya akses laki-laki. “Oh, baiklah. Saya mengerti!” sahut Sabella setelah membisu dan akhirnya memahami. Sadar jika ini fasilitas umum yang asalnya bukan hanya untuk wanita. Hanya kali ini pertandingannya khusus dan kebetulan memilih di sini. Sempat melirik lagi ke sebelah. Mereka berdua sudah tidak ada di balik kaca. Sabella yakin tidak salah lihat bahwa satu dari dua lelaki tadi adalah Ryker! “Terima bunganya, Mbak. Aman kok!” CS wanita kembali mengulurkan seikat bunga itu. “Dari siapa, ya, Mbak?” Sabella menerima sambil bingung. Bau mawarnya harum dan terasa menyegarkan. “Dari anak kecil yang katanya Mbak tolong pas di toilet. Dia kesini untuk mendukung guru sekolahnya. Tetapi dia bilang, juga ikut senang jika Anda yang menang.” Wa
Lomba renang yang diikuti hanya khusus perempuan. Ben meninggalkannya di pintu masuk National Swimming Club dan kembali ke apartemen. Dia mengantarkan sendirian. Ryker tiba-tiba mengambil part time sebagai joki pendamping pada sebuah klub kuda di kota. Mungkin semasa Kakek masih ada, lelaki itu sudah sering mendatangi Surabaya.Entah sengaja atau tidak, dan benar atau salah, Sabella tahu jika pusat pacu kuda di kota adalah di sebelah gedung renang. Bahkan dengan tembok berhimpitan. Namun, dirinya enggan bertanya untuk memastikan di pacuan mana Ryker pergi. Dahi Sabella berkernyit, kenapa Kakek tidak pernah saling mengenalkan mereka semua? Sabella memasuki area kolam dengan penuh tanya. Sebelum pergi ke ruang ganti, dirinya pergi ke toilet untuk buang air kecil. Meski lomba ini semi tertutup dan khusus wanita, pengunjung tetap ramai. Bahkan berjalan pun harus fokus. Semua perempuan berlalu lalang tanpa putus. Ups! Sedetik sempat ragu, antrian di empat pintu toilet cukup panjang. Na
“Hanya semalam, sebelum ke Semarang!” Ryker berseru sebelum pergi menuju lobi. Sabella menelan ludah susah payah. Dari kecil terbiasa tinggal di asrama perempuan, tiba-tiba ikut para lelaki dan tinggal bersama? Ini dialaminya sungguhan atau hanya mimpi kesiangan? “Jangan ragu, Sabella. Kamu sangat aman. Kami bukan lelaki garangan. Lagipula, sebelum menikah, kita tercatat sebagai saudara. Hanya semalam, besok pagi kita sudah terbang ke Semarang,” ucap Ben. Seperti tahu apa yang dipikir Sabella. Dia menjelaskan sambil berjalan lambat. Mereka berhenti di depan lift. Tidak lama Ryker datang dengan satu kunci di genggamnya. Kedatangan lelaki tegap itu bersamaan dengan pintu besi yang membelah. Sabella berusaha tenang. Mengikuti mereka masuk ke dalam kotak lift. Coba lebih yakin dan percaya pada lelaki-lelaki yang disebut Kakek dalam wasiatnya. Berharap asa di dada yang selama ini ingin memiliki seseorang, bahkan beberapa orang sebagai keluarga, sebentar lagi terwujud. Tidak masalah mes







