MasukKeadaan ini membuat Sabella jadi patung. Namun, orang-orang terus heboh dan tidak peduli dengan yang terjadi di sekeliling, apalagi melihatnya yang sedang di posisi sulit.
“Maaf, Mas. Terima kasih, ya …,” ucap Sabella jadi serba salah. Coba menggerakkan badan ke samping, berharap lelaki di belakangnya menjauh. “Duduklah saja. Aku akan menelepon, Ben.” Ryker berkata pelan dan bukan keras sebab jarak kepala mereka jadi dekat. Meski ada kursi yang menghalang di antara badan, Sabella merasa risih sekaligus malu. Wajah bersihnya kemerahan terkena sorot lampu. Terasa Ryker menarik tangannya dan menjauh. Suasana berubah jadi canggung dan mereka sama-sama membuang pandang ke panggung. “Hah, dapat banyak! Kalian tidak ingin ambil video?!” seru lelaki bersama sosoknya mendekat. Langsung duduk di sebelah Sabella tepat. Yakin bahwa bangku yang kosong itu miliknya. Ryker menyimpan ponselnya dan tidak jadi menelepon. Ben datang sendiri dan kemungkinan akan lebih panjang umur. “Sudah.” Sabella yang menjawab. Seketika Ben tersenyum dengan perasaan senang. “Jika videomu tidak bagus, nanti kubagi.” Ben menimpali dengan tatapan sungguh-sungguh. Mungkin niatnya untuk memiliki Sabella juga tidak main-main. “Terima kasih, Mas.” Sabella menyahut meski dalam hati tidak berminat akan video konser ini. Seluruh lagunya memang bagus, tetapi semua personilnya bapak-bapak! “Apa pas keluar nanti begitu sesak?!” tanya Ben penuh maksud. Dia menoleh ke belakang pada Ryker. “Keluar sekarang?” sambut Ryker dengan cepat. Sangat mengerti apa maksud pertanyaan Ben. “Buat apa nunggu nanti, video pun sudah dapat. Tapi Sabella …?” Ben seketika menoleh. Meski menduga gadis itu tidak terlalu suka hingar bingar, barangkali saat ini berbeda seleranya. “Jadi, kita beli tiket nonton mahal-mahal hanya untuk ambil video?” tanya Sabella terus terang. Bukan tidak tahu berapa harga tiket konser kali ini. Apalagi kelas VIP, tiga juta kurang selembar. “Kan sudah masuk. Sudah lihat langsung. Intinya juga sudah ambil video. Apa kamu masih ingin nonton sampai habis, Bel? Ya kita ngikut kamu.” Ben menjelaskan tidak keras tetapi cukup bisa didengar jelas. Tadi sempat berdiri, kini duduk lagi. “Tidak begitu, Mas. Sebenarnya ini sangat bising bagiku.” “Nah, Yuk …!” sahut Ben, segera berdiri dengan semangat. Ryker pun ikut berpisah dari kursi. Rupanya Ben hanya menahan diri demi mengambil video untuk ibu. Terlepas bagaimana kelakuan, dia kategori anak lelaki yang berbakti. Bisa-bisanya Kakek menyimpan keluarga yang ternyata memang kaya. Sabella pun terkena imbas bagusnya seketika. Nonton konser band dunia dengan dua lelaki yang sama-sama mempesona, siapa sangka … hal yang dulu tidak mungkin, tiba-tiba didapatnya. Seperti dalam mimpi tengah malam rasanya. Sabella tersenyum berjalan di antara mereka. Bertiga menuju arah pintu keluar dengan formasi jalan yang sama ketika masuk. Ben, Sabella, dan Ryker sebagai sweeper lagi. Tiga jam kemudian di apartemen. Saat maghrib datang dan hampir berlalu. Pintu kamar sedang diketuk cepat, sepertinya orang di luar tidak sabar. Sabella tengah melipat mukena dan sajadah dengan rapi untuk diselip lagi ke dalam tas besarnya. Ternyata Ben. "Apa kamu tidur? Akan ada yang datang melihatmu." “Siapa?” tanya Sabella, dalam hati mengakui sempat tidur. Apa wajahnya tampak kusut? “Yang namanya Samuel Bastian sebentar lagi datang.” Ben menyahut cepat, senyumnya menghilang. Memang tidak suka jika saingannya tambah lagi. “Sebentar, Mas. Nanti aku ke sana.” Sabella akan menutup pintu. Tetapi Ben menahan. “Kamu sudah cantik, tidak perlu make up lagi,” tegur Ben terus terang. Tatapannya dalam di wajah Sabella. Dia begitu pengalaman dengan tabiat perempuan, juga gencar mengejar incaran, dan memburu tanpa segan. Sabella yang memang ingin memakai bedak atau sedikit memoles bibir, seketika tidak berselera. Salah tingkah dengan pujian sekaligus tatapan Ben yang hangat. Segera keluar kamar dan menutup pintu. Mengikuti kaki lelaki yang berjalan mendahului. Ada Ryker di sana, terlihat sibuk di meja dapur. Kaki dengan celana selutut dan punggung lebar berkaos oblong itu tampak bergerak mondar-mandir. Terlihat keren dengan celemek kuning di dadanya. “Ah, enak sekali kayaknya, Ryk. Skill-mu sudah level emak-emak!” Ben berkeliling sepanjang meja makan. Beberapa piring berisi spaghetti terlihat panas dan lezat. Uapnya telah menyebar ke mana-mana. Ryker acuh tak acuh dengan meletak dua piring spaghetti lagi ke meja. Menatanya sebentar dan membuka celemek di badan dengan sekali hentakan, mencampakkannya ke sandaran kursi. “Duduk, Sab … Sabell …,” ucap Ben bernada empat lima. Menarik dua kursi, satu untuknya dan satu Sabella. Juga mengambilkan sepiring spaghetti. “Itu bukan untuknya, Ben. Spesial buat Bulan.” Ryker menegur pelan tetapi tegas. Dia telah duduk di kursi depan Ben. Menyambar segelas air putih dan meneguknya sekaligus. “Oh, salahkah … sorry, Bro!” Ben menarik lagi piring spaghetti yang tadi diambilnya untuk Sabella. Dia kembalikan ke posisi semula dan menarik lagi piring lain sambil tersenyum cukup lebar. Sabella sedikit berkerut dahi. Melirik lelaki penyedia spaghetti malam ini. Dia telah membuat piring spesial untuk Bulan. Beruntung sekali perempuan yang diperhatikannya sedemikian. Namun, siapakah Bulan? Apakah Ryker sudah punya pacar? Patut, sikapnya dingin dan seperti tidak tertarik pada wasiat itu. Sabella sibuk menduga-duga. 🍒“Sajian penting pencuci mulut belum ada …,” ucap Ben berkomentar setelah melihat-lihat di seluruh permukaan meja. Ryker acuh tak acuh tanpa menyahut dan kini berdiri. Meninggalkan kursi dan mendekati lemari es. Lalu mengambil posisi jongkok untuk mencari sesuatu di dalamnya. “Kenapa Mas Ryker terlihat repot? Kenapa tadi tidak memintaku … maksudku, aku bisa masak. Aku pikir, kalian tidak doyan makan rumahan.” Sabella meluahkan rasa heran dan merasa jadi segan. Sebab kemarin, mereka berdua menolak tawaran untuk makan siang di asrama. Tetapi membawanya makan siang di restoran. Alhasil makanan banyak di asrama hanya Pak Edo, sang kuasa hukum Kakek itu saja yang mengapresiasi. “Kita sebenarnya justru tidak suka makan di luaran, Bel. Kecuali tidak bisa pulang ke rumah dan sedang buru-buru.” Ben menjawab sambil mengipasi spaghetti panas di piringnya. “Iyakah? Tapi … Mas Ben bilang, orang tua tidak di Indonesia. Lantas, pulangnya ke mana?” tanya Sabella. Meski lelaki itu terindikasi pemai
Keadaan ini membuat Sabella jadi patung. Namun, orang-orang terus heboh dan tidak peduli dengan yang terjadi di sekeliling, apalagi melihatnya yang sedang di posisi sulit. “Maaf, Mas. Terima kasih, ya …,” ucap Sabella jadi serba salah. Coba menggerakkan badan ke samping, berharap lelaki di belakangnya menjauh. “Duduklah saja. Aku akan menelepon, Ben.” Ryker berkata pelan dan bukan keras sebab jarak kepala mereka jadi dekat. Meski ada kursi yang menghalang di antara badan, Sabella merasa risih sekaligus malu. Wajah bersihnya kemerahan terkena sorot lampu. Terasa Ryker menarik tangannya dan menjauh. Suasana berubah jadi canggung dan mereka sama-sama membuang pandang ke panggung. “Hah, dapat banyak! Kalian tidak ingin ambil video?!” seru lelaki bersama sosoknya mendekat. Langsung duduk di sebelah Sabella tepat. Yakin bahwa bangku yang kosong itu miliknya. Ryker menyimpan ponselnya dan tidak jadi menelepon. Ben datang sendiri dan kemungkinan akan lebih panjang umur. “Sud
Mereka singgah singkat di restoran pusat kota untuk makan siang. Hanya mengambil waktu cepat sebelum meneruskan perjalanan. Arus kendaraan di jalanan menuju gedung cukup padat. Bau-bau aliran pengunjung konser besar grup musik pop asal Irlandia itu terasa kuat. Sebab datang lambat, gegap gempita konser dari dalam stadion terdengar jelas ke arah pintu masuk. Sabella berjalan di tengah diapit dua lelaki di depan dan belakang dengan Ben yang memimpin. Namun, lelaki gagah yang akan menyerahkan tiket virtualnya itu gagal sebab seseorang memanggil namanya. Perempuan dengan dress pendek yang terlihat seksi dan cantik sedang menghampiri dan menarik lengan Ben menepi. Ryker pun segera ikut keluar baris antrian dan diikuti Sabella. “Ben, nomorku kamu blokir? Aku selalu gagal menghubungi kamu. Kenapa? Kamu gak ganti nomor kan?” tanya perempuan itu dengan menangis. Ben baru saja menolak tegas pelukannya. “Sudah kubilang, hubungan kita bukan apa-apa. Hanya sementara dan sekarang berakhir.”
“Gordennya otomatis kerja, Mbak. Akan membuka sendiri menjelang siang. Kolam pun biasanya pukul sepuluh pagi hingga pukul satu siang sudah tidak ada aktivitas. Jadi, harap maklum lah, Mbak.” Wanita itu menjelaskan saat Sabella memrotes tegas akan mudahnya akses laki-laki. “Oh, baiklah. Saya mengerti!” sahut Sabella setelah membisu dan akhirnya memahami. Sadar jika ini fasilitas umum yang asalnya bukan hanya untuk wanita. Hanya kali ini pertandingannya khusus dan kebetulan memilih di sini. Sempat melirik lagi ke sebelah. Mereka berdua sudah tidak ada di balik kaca. Sabella yakin tidak salah lihat bahwa satu dari dua lelaki tadi adalah Ryker! “Terima bunganya, Mbak. Aman kok!” CS wanita kembali mengulurkan seikat bunga itu. “Dari siapa, ya, Mbak?” Sabella menerima sambil bingung. Bau mawarnya harum dan terasa menyegarkan. “Dari anak kecil yang katanya Mbak tolong pas di toilet. Dia kesini untuk mendukung guru sekolahnya. Tetapi dia bilang, juga ikut senang jika Anda yang menang.” Wa
Lomba renang yang diikuti hanya khusus perempuan. Ben meninggalkannya di pintu masuk National Swimming Club dan kembali ke apartemen. Dia mengantarkan sendirian. Ryker tiba-tiba mengambil part time sebagai joki pendamping pada sebuah klub kuda di kota. Mungkin semasa Kakek masih ada, lelaki itu sudah sering mendatangi Surabaya.Entah sengaja atau tidak, dan benar atau salah, Sabella tahu jika pusat pacu kuda di kota adalah di sebelah gedung renang. Bahkan dengan tembok berhimpitan. Namun, dirinya enggan bertanya untuk memastikan di pacuan mana Ryker pergi. Dahi Sabella berkernyit, kenapa Kakek tidak pernah saling mengenalkan mereka semua? Sabella memasuki area kolam dengan penuh tanya. Sebelum pergi ke ruang ganti, dirinya pergi ke toilet untuk buang air kecil. Meski lomba ini semi tertutup dan khusus wanita, pengunjung tetap ramai. Bahkan berjalan pun harus fokus. Semua perempuan berlalu lalang tanpa putus. Ups! Sedetik sempat ragu, antrian di empat pintu toilet cukup panjang. Na
“Hanya semalam, sebelum ke Semarang!” Ryker berseru sebelum pergi menuju lobi. Sabella menelan ludah susah payah. Dari kecil terbiasa tinggal di asrama perempuan, tiba-tiba ikut para lelaki dan tinggal bersama? Ini dialaminya sungguhan atau hanya mimpi kesiangan? “Jangan ragu, Sabella. Kamu sangat aman. Kami bukan lelaki garangan. Lagipula, sebelum menikah, kita tercatat sebagai saudara. Hanya semalam, besok pagi kita sudah terbang ke Semarang,” ucap Ben. Seperti tahu apa yang dipikir Sabella. Dia menjelaskan sambil berjalan lambat. Mereka berhenti di depan lift. Tidak lama Ryker datang dengan satu kunci di genggamnya. Kedatangan lelaki tegap itu bersamaan dengan pintu besi yang membelah. Sabella berusaha tenang. Mengikuti mereka masuk ke dalam kotak lift. Coba lebih yakin dan percaya pada lelaki-lelaki yang disebut Kakek dalam wasiatnya. Berharap asa di dada yang selama ini ingin memiliki seseorang, bahkan beberapa orang sebagai keluarga, sebentar lagi terwujud. Tidak masalah mes







